8 Tips Penting Sebelum memilih Guru di Era Digital

Tips & Motivasi

Published on Mei 10th, 2018 | by Ibnu

8 Tips Penting Yang Wajib Kamu Lakukan Sebelum Memilih Guru (mastah) di Era Digital

Tips memilih guru?

Hayo pilih mana … belajar sendiri? atau belajar dengan bimbingan seorang guru (mastah)?

“Ya … tentu dengan guru dong mas! Guru’kan bagaikan cahaya di kegelapan, yang senantiasa menuntun muridnya ke sebuah pintu keilmuan.”

Wah … benar sekali, pintar …

Ada seratus cara lebih bisa kita lakukan sendiri untuk meraih tujuan, “sukses” atau tujuan lainnya. Tapi percayalah, ada kurang dari lima puluh cara untuk itu, jika kita berguru pada seseorang mastah yang telah terbukti ahli.

“Wah, semakin menarik!”

Guru (mastah) adalah orang yang telah berpengalaman bekerja, bergulat pada sebuah bidang keilmuan tertentu, hingga menghasilkan karya dari ketekunannya. Merekalah yang sudah merasakan pahit-manis perjuangan dalam mencari nilai.

Saya pernah berjumpa dengan tipe orang “kemaki” (sombong). Semoga bukan kita. Jadi dia itu selalu bergaya. Merasa bisa melakukan banyak hal tanpa bantuan orang lain.

Dan apa akhir yang tepat serta pantas ia dapatkan?

Dari 10 keiginan yang ingin ia capai, 11 kali ia gagal memperolehnya. Pasti dia tak faham tcara atau tips memilih guru!

Jangan mengaku orang cerdas jika tak mau belajar dari pengalaman orang lain. jangan pula mengaku berilmu jika malas belajar dan mendengar nasihat dari guru.

Menuntut ilmu itu hukumnya wajib, maka hal ini tak bisa dianggap sepele.

Memilih guru itu susah-susah, susah. analoginaya seperti memilih pasangan se-hidup, se-surga. Eaaa … *semoga doi nggak dengar ini, malu …

Apalagi di era digital sekrang ini. Banyak orang pintar, mengaku pintar, tapi tak faham. Sudah sulit tambah sulit ini.

“Duh. Gimana dong?!”

Tenang. Ada kok tips-tips yang akan memudahkan kamu, setidaknya agar tak salah memilih guru (mastah).

Ingat, tips di bawah ini, berlaku dalam setiap bidang keilmuan. Tidak hanya soal blogging, internet marketing maupun writing, semua (asal itu ilmu) bisa diterapkan!

Catatan:

Online hanya sebuah cara. Jalan pintas. Bagaimanapun, pertemuan secara langsung dengna bertatap wajah lebih utama (sangat diajurkan) dalam belajar. Tapi hal ini tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak belajar. oke!

8 Tips memilih guru di era digital

Temukan dirimu

Ingin belajar apa? buatlah spesifikasi keinginan. Hal ini akan berkorelasi dengan tips-tips selanjutnya. Menemukan diri juga susah-susah gampang. Fahami diri kamu, cari tahu kalau kamu ini kodok atau ikan. Jika kodok keahlianmu ya melompat, maka tidak bijaksana apabila seorang kodok belajar pada burung yang keahliannya terbang. Kodok belajar melompat harus dari guru kodok. Bukan begitu saudara?!

Pastikan dia nyata bukan maya

Sebelum memilih guru, pastikan dulu … dia manusia atau bukan. dia tumbuhan atau bukan, hewan atau bukan, robot atau bukan, dan ssst … bukan juga makhluk halus.

Seperti point satu tadi. Sebab, diri kita seorang manusia berbudaya. Maka manusia jugalah yang tepat untuk dijadikan contoh. Hanya mansia yang bsia memberikan pembelajaran sempurna kepada manusia lain.

Mungkin sih, belajar dari selain manusia … seperti saya pernah belajar mencakar dari kucing, berenang dari ika, melompat dari kodok, hingga minum gaya kera. Ha ha ha … hayu, berani coba?

Lupakan. Mari serius!

Akhlak yang manis

Manis tak selau dilambangkan dengan gula. Manis juga bisa dideskripsikan dengan akhlak yang baik, sopan, ramah, taat agama, dan turunannya.

“Gimana caranya Mas, meng-cek kemanisan akhlak orang lain dengan mudah?”

Sssst … begini, caranya. Pasang mata, dan intip media sosialnya!

Media sosial adalah gambaran dari akhlak seseorang, biasanya tergambar dari apa yang ia masukkan di sana. entah tulisan, gambar, video, atapun curhatan.

Jika seorang itu berakhlak manis, pasti postingannya jauh dari kesia-siaan, melainkan penuh dengan keberkahan.

Mastah yang benar-benar mastah

“Maksudnya apa ya? nggak jelas!”

Maksudnya, carilah guru yang benar-benar memiliki spesifikasi sebagai guru. Salah satu spesifikasi itu adalah sebuah keahlian. Cari dan temukan sesuatu yang membuat sang mastah itu patut kita kejar. Terutama soal kepiawaiannya dalam bidang tertentu. Tujuan kita kan ingin meneransfer ilmu mereka, Lah, kalau ia tak punya apa-apa, lantas apa yang ingin kita maknai?

Cinta ilmu

Kalau orang sudah sampai ke tingkatan mastah, sebenarnya sudah dipastikan mereka adalah pecinta ilmu (mau belajar)

Kalau kurang yakin, bolehlah sahabat riset kebiasaanya. Saya yakin bahwa mereka (mastah) pasti melewati proses belajar sebelum dirinya meraih kesuksesan. Mereka pasti dekat dengan buku, seminar, mendengar ansehat di mana saja, menulis, dan segelintir aktivitas keilmuan lainnya.

“Tidak ada kebahagian yang diraih tanpa melalui jalan kepahitan untuk belalajar”

Dan lagi, mereka tidak pelit ilmu. Mereka laksana bulan yang meneruskan sinar mentari. Sinar itu adalah pengetahuan, dan matahari adalah smber pengetahuan bermakna Tuhan.

Komunikatif

Silakan saja bertanya via email atau apa, walau tak bisa menjawab langsung biasanya seorang mastah pengertian akan tetap mencatat pertanyaanmu. Ya, walau pertanyaan nyeleneh sekali pun. Mereka adalah pendengar yang baik.

Bila tak dijawab secara langsung, biasanya mereka cenderung membuatkan konten buat kita. Entah melalui tulisan blog, ataupun video Youtube. Intinya mereka juga ingin membangun silaturahmi terhadap siapa saja.

Cari testimoini berdasar kan orang lain yang pernah belajar

Keberhasilan guru tidak selalu dapat dilihat keberhasilan seorang murid. Tapi setidaknya itu sudah mewakili jika guru tersebut baik untuk didekati.

Tanya saja dengan orang yang menurutmu berhasil dalam bidang tertentu, tanyalah mereka, siapa gurnya. Setelah itu, cari deh!

Satu guru: satu atau dua keahlian

Zaman sekarang sangat jarang sekali satu orang yang menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan setingkat mahir sekaligus.

Satu kepala rata-rata menguasai 2-3 ilmu saja (mahir). Maka, carilah guru sebanyak mungkin. Dalam bidang yang ingin kamu tekuni. Tak musti satu orang. Guru ahli disain, belum tentu ia jago menulis. Dan sebaliknya, karena hakikatnya setiap orang itu berbeda, dan mereka ada untuk saling melengkapi.

Langkah tambahan: dekati dan Turuti kemauannya

Sudah kewajiban seorang murid kalau ia harus mematuhi sebuah aturan yang diberikan guru. Murid harus melakukan apa yang diperintahkan oleh gurunya. Tak lain ketika diperintahkan untuk membeli sebuah produk pembelajaran. Ha ha ha. Mastah juga butuh penghidupan tahu …!

Seorang guru tentu faham akan masalah muridnya. Dari sana ia berpikir keras soal: “Bagaimana cara menciptakan seuah formula pembelajaran terbaik, yang akan mempermudah orang lain yang ingin segera menguasai ilmu tertentu.”

dan ingat, ilmu itu mahal. Kamu juga harus rela berinvestasi terhadapnya. Jangan melulu  cari gratisan, nanti mirip saya loh. *ehhh

Ada satu quotes nih dari saya, “Cintailah pemilik ilmu, jika ingin dirimu dikejar ilmu. Dan jangan kamu ebnci pemilik ilmu, jika kamu tak ingin direndahkan karena ilmu.”

Baik. itu dia tadi 8 Tips memilih guru di era digital. semoga menginspirasi dalam  setiap lelah perjalanan pencarianmu terhadap pengetahuan. Aamiin.

Jika ada tips tambahan yang ingin dibagikan, siakan, jangan ragu untuk menambahkannya di kolom komentar bawah, trima kasih juga untuk meng-share artikel ini kepada sahabat lainnya.

Salam!

Baca juga:Banyak Orang Dihampiri Kesuksesan Gara-Gara Melakukan Kebiasaan Ini!


About the Author

adalah seorang penulis yang juga memiliki minat di internet marketing. Semua berawal dari sejarah, dan dari sana juga ia tercipta.



Back to Top ↑