Tips & Motivasi

Published on Mei 31st, 2018 | by Ibnu

0

4 Tingkatan Dalam Memberi Yang Wajib Kamu Tahu!

Saya tak pernah memilih untuk dilahirkan ke dunia; menjadi manusia. Menjadi laki-laki jawa yang lahir di pedalaman Sumatera … apalagi.

Ini sungguhan! saya tidak pernah bisa memilih apa pun. Semua sudah ada begitu saja ketika saya dilahirkan. Awalnya saya kira ini hanya candaan belaka, ternyata bukan.

Begitu pun dengan makhluk lain di muka bumi, tidak ada yang mampu berkehendak semaunya.

Seandainya bisa pun, pasti berbahaya. Akan banyak orang menginginkan hal sama dalam dunia nantinya, “Jika hidup di dunia, saya ingin menjadi manusia yang pintar, lahir dari keluarga ulama yang kaya dan dihormati!” atau, “Saya memilih menikah dengan si fulanah, fulanah dan fulanah.”

Sayangnya pilihan itu tak pernah ada sampai kapan pun. Ia hanya bertempat di imajinasi kita, alias “maya”.

Kesimpulannya apa?

Ternyata, hidup ini bukan sebuah pilihan …

“Jadi apa kalau bukan pilhan? Paksaan??”

Hidup bukan pula paksaan … hidup adalah sebuah pemberian: anugerah dari Tuhan.

Manusia dan “memberi”

Manusia adalah salah satu makhluk spesial yang mampu melakukan banyak potensi. Potensi “memberi” adalah salah satunya. Namun sayang, potensi mengagumkan tersebut, sudah banyak dinomorduakan manusia, ya … karena alasan-alasan tertentu.

Maka alangkah baiknya kita mengetahui ilmu tentang memberi sebagai ritual menjadi manusia kembali. Setelah mengetahui tingkatan-tingkatan dalam memberi, kita wajib mengamalkan untuk segera memperoleh manfaat minimnya yaitu: meningkatkan kualitas berhubungan dengna sesama manusia.

Memberi

Memberi adalah sebuah tindakan membagikan sesuatu kepada orang lain. Dan memberi itu berat bagi sebagian manusia, terlebih mreka yang belum terbiasa.

“Memberi itu butuh pengorbanan, kerelaan, juga keikhlasan. Tanpa itu ketiga hal tersebut, bukan memberi namanya.”

Memberi bagi sebagian orang merupakan hal menyusahkan. Semakin menonjol ketika seseorang malas, dan cenderung menganggap dirinya tidak memiliki apa-apa alias serba kurang.

“Bagaimana memberi dan membantu orang lain? diri sendiri saja masih susah?” kata mereka.

Nah apakah sahabat juga beranggapan sama? jika YA, maka simaklah informasi tentang 4 tingkatan memberi ini.

“Memberi itu mudah, yang sulit itu menerima.

4 tingkatan memberi yang seharusnya kamu ketahui:

Materi

Setiap pagi hari semua manusia merasa lapar, dan mereka tentu butuh sarapan. Benar?

Setiap kali merasa kedinginan, manusia membutuhkan pakaian, jaket, atau selimut. Bukan begitu?

Itulah yang disebut materi: segala sesuatu itu tampak serta dapat dicerap indera yang berguna untuk menunjang keberlangsungan hidup di dunia.

Semua manusia butuh materi, terutama materi pokok seperti: sandang, pangan, dan papan.

Memberi di tingkatan ini sudah sangat umum sekali kita temua, setiap orang tua biasanya selalu berusaha memberikan materi terbaik buat anaknya entah uang, makanan, dan lainnya. Seorang teman yang memberikan hadiah, ataupun si kaya yang bersedekah makanan kepada orang miskin.

Memberi tingkat materi tergolong mudah, walau tak banyak manusia gemar melakukannya dengan alasan tidak mampu.

Pengetahuan dan ilmu bermanfaat

Memberi di tingkatan pertama tergolong mudah, walau tidak semua orang bisa melakukannya. Kali ini … semua orang memilikinya, namun sulit untuk memberikannya.

Pepatah lama mengatakan, “Ilmu itu mahal harganya.”

Ya, itu benar, saya sangat sependapat.

Namun apa karena mahalnya ilmu justru menjadikan kita untuk malas berbagi? Hmm …

Menghitung-hitung ilmu dan membandingkannya dengan uang? Ah, betapa rendah ilmu pengetahuan kita …

Saya mengamati banyak orang malas berbagi ilmu karena beberapa sebab. Pertama, dirinya takut orang lain lebih pintar darinya sehingga merasa akan tersaingi. Kedua, merasa ilmunya belum pantas dibagikan (masih sedikit).

Alasan pertama bagi saya sangat tidak wajar. Mereka yang beranggapan demikian bisa dipastikan mereka tidak mengetahui manfaat dari memberi atau the power of giving. Semakin memberi, semakin bertambah.

Untuk alasan kedua masih bisa ditolerlir, jalan keluarnya pun sangat sederhana. Kenapa tidak membagikan ilmu dari orang lain sekaligus belajar?

Kesempatan

Memberi kesempatan adalah usaha membiarkan orang lain untuk minimal “mencoba” sesuatu hal demi menunjukkan kemampuan orang lain.

Jika di ilmu tadi kita dihalangi ketakutan akan tersaingi, di sini kesulitannya adalah saat melawan rasa keraguan dan ketidakyakinan.

Memberi kesempatan jauh lebih sulit daripada memberi sebuah materi, atau pun ilmu. Kenapa? Karena di sini lebih banyak risiko. Entah dihianatilah, ditipulah, dilupakan dan lain-lainnya.

Catatannya satu. Hindari menilai seeorang dari fisik tanpa mengetahu hati. Karena ini sangat berbahaya bagi diri sendiri.

Berilah kesempatan pada orang lain, maka kamu akan diberi kesempatan lebih besar lainnya (entah dari siapa)!

Kepercayaan

Ada cerita kecil menggelikan yang pernah saya alami. Ya, tentang seorang pimpinan perusahan tempat saya bekerja dahulu.

Menjadi wajar seorang pimpinan perusahan ingin membawa perusahannya menuju puncak kesuksesan. Tapi ada satu hal penting yang beliau lupakan, apa itu? ia tidak mampu mempercayai bawahannya sama sekali.

Apa pun yang dikerjakan oleh pekerjanya, pimpinan itu selalu tidak pernah puas, ia selalu saja curiga. Mungkin dengan cara menunjukkan cara kerja yang baik secara langsung kepada bawahan akan menjadi jalan keluar. Padahal tidak, itu malah membuat bawahan semakin tertekan. Lalu bawahan bertanya, “Untuk apa aku di sini jika hanya mendengar kata-kata yang sama setiap hari?”

Memberi kepercayaan sangat-sangat berat. Risiko jika gagal pun pasti perih. Ya, bayangkan saja seperti apa dihianati kekasih yang sebelumnya telah kita beri kepercayaaan penuh? Bagaimana rasanya? terluka?

Memberikan kepercayaan artinya menyerahkan sepenuhnya tanpa ada lagi rasa khawatir takut kehilangan sesuatu. inilah tingkatan memberi tersulit yang tidak semua orang berhasil melakukannya.

Tambahan

“Barangsiapa ingin menerima, ia harus memberi.” ini adalah hukum pasti yang berjalan di Bumi.

Maka bisa dikatakan orang dungu jika setiap harinya ia berharap menerima sesuatu dari orang lain, tanpa ada pemberian terlebih dahulu yang ia lakukan.

Manusia sampai kapan pun tak pernah memiliki sesuatu untuk diberi. Entah itu materi, ilmu pengetahuan, kesempatan, kepercayaan: manusia tak punya itu. sesuatu yagn sepertinya milik manusia hanyalah titipan dari tuhan. Dan menurut saya, hukum memberi itu ada di tingkatan wajib.

Allah telah mengkaruniakan segalanya (hidup) buat hambanya, ia percaya dan yakin kepada manusia  dengan ilmunya akan membawa kemaslahatan dunia.

Mari lebih berhati-hati menggunakan kepercayaan. Mari saling mengingatkan. Karena, “Menerima itu jauh lebih sulit daripada memberi.”

Mulai sekarang berikan apa saja yang Allah titipkan pada kita—harta berlebih, ilmu bermanfaat hingga kepercayaan.

Dan tanggung jawab pokok kita sebagai seorang hamba ialah memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Allah dan meyakini bahwa Dialah yang berhak mengatur segalanya. []

Jangan lupa share ya …!

 

Baca juga:3 Langkah Cerdik Menyaring Informasi Negatif di Era Digital

Tags: , ,


About the Author

adalah seorang penulis yang juga memiliki minat di internet marketing. Semua berawal dari sejarah, dan dari sana juga ia tercipta.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top ↑