Tokoh

Published on November 15th, 2017 | by Ibnu

[Terbaru] 9 Rahasia Sukses berbisnis Ala Entrepreneur Muslim Abdurrahman Bin Auf

Bergadang, eh berdagang…

Rahasia sukses abdurrahman bin auf. Berdagang merupakan pekerjaan yang akrab dengan Rasulullah SAW. Sejak kecil hingga akhir hayat, beliau tetap teguh dengan pekerjaan satu ini, selain tujuan utamanya ada yaitu berdakwah menyeru agama Allah.

Namun entah kenapa, di masyarakat Indonesia, jika mendengar kata “dagang” atua, “jualan” rata-rata dari mereka berpandangan tidak utuh. Menganggap pekerjaan itu tidak mulia, pekerjaan yang memalukan, dan hasilnya tidak pasti. Lantas mereka lebih memilih untuk menjadi karyawan diperusahaan besar, tak hanya dirinya, anak-anaknya disekolahkan tinggi-tinggi, dipersiapkan untuk bekerja di instansi, atau perusahaan tertentu. Padahal Rasulullah sendiri yang bilang, bahwa, salah satu dari 9 pintu rezeki adalah berdagang.

Jika mendengar kata berdagang kurang gimana gitu, maka bolehlah saya ganti, biara keren sedikit dengan istilah BERBISNIS. Oke…

Semua ingin umat Islam harapan akhirnya menurut saya adalah sukses di dunia, dan sukses diakhirat. Dan untuk mengejar kedua hal tersebut, maka pantaslah kalau manusia berusaha, berupaya untuk mendapatkanya. Salah satu jalan paling utama untuk meraihnya adalah dengan B-E-K-E-R-J-A. Benar bekerja, aktivitas tukar-menukarkan keringat demi keringan dengan beberapa lembar uang untuk tetap meneruskan kehidupan.

Islam membenci orang yang malas kerja

Di dunia ada beberapa jenis orang, yang pertama mereka yang asik emngejar-ngejar dunia, dan melupakan akhirat. dan kedua, terlalu asyik mengejar-ngejar akhirat, lupa dunia. Jenis yang pertama merupakan jenis manusia yanng cara pandangnya salah, karena mereka diciptakan di dunia bukan untuk mencari dunia, melainkan untuk kembali kepada-Nya dengan keadaan yanng baik. Jenis yang kedua pun salah. Meski tujuan akhir dari kehidupan dunia adalah akhirat, mereka tak seharusnya melupakan dunia, sebab dunia di ibaratkan ladang amal, dan sebagian besar ibadah ialah kepada sesama, bahasa Qurannya Hablum minannas (beribadah kepada makhluk).

Orang yang kedua biasanya, meninggalkan perkara pekerjaan. Kalau tidak ia malas bekerja, mengandalkan meminta-minta, padahal ia mampu untuk sekadar bekerja. Kalau tidak meminta-minta, mereka berdiam diri dirumah, melakukan aktivitas sia-sia, tidur, nonton TV, dll. Anggapan mereka bahawa rezeki sudah ditetapkan, dan tidak perlu untuk dicari. Padahal, hali itu salah, rezeki hadir melalui sebuah jalan, dan jalan itu disebut dengan ikhtiar.

Abu Darda berkata, “Termasuk tanda kepahaman seseorang terhadapa agamanya adalah adanya kemauan untuk mengurusi kemauan rumah tangganya.”

Jangan jadi pemalas. Islam membenci orang malas, tentu ada alasanya. Mari, menjadi mulia lewat bekerja!

Dimana orang hari ini harus belajar?

Ini adalah saat yang tepat dimana kita harus menyiapkan hati dan pikiran unntuk menilik ke belakang dan melompak ke sejarah. kita akan belajar dari sejarah.

Sejarah adalah pembelajaran terbaik (bagi saya) semoga juga berpikiran sama.

Ini juga sebagai jawaban, kenapa masyarakat muslim di Indonesia menjadi lemah. Mudah terbawa suaana, terombang ambing kemelut zaman. Hanya satu, karena kita jarang, bahkan tidak mau belajar dengan sejarah. (sejarah yang tepat, terbukti kebenaranya.)

“JAS MERAH! Jangan sekali-kali melupakan SEJARAH…” kata bapak proklamator kita.

Nah, pada kesempatan saya akan mengajak sahabat untuk kembali kebelakang, dan belajar dari sejarah. hal ini sangat tepat, karena yang kita pelajari hari ini adalah sejarah orang TOP  terdahulu, salah saatu sahabat Rasulullah SAW.

Maka tak etis bukan. Jika kita umat Islam memilih belajar dari orang-orang non-Muslim. Itu baik, namaun kalau melupakan sejarah Islam sendiri bagaimana? Islam cap opo kuwi?

Yup, langsung saja, karena temanya menyangkut bekerja dan bisnis. Saya kenalkan sahabat dengan manusia TOP tadi, sosok yang tepat untuk kita contoh. Sama-sama Islam, cara syahadat sama, sama-sama manusia. Siapa dia? Ia adalah Abdurrahman Bin Auf.

Baca: 5 Langkah menulis efektif

Rahasia sukses abdurrahman bin auf

Siapa Abdurrahman Bin Auf?

Sebelum menginjak materi 9 rahasia sukses berbisnis ala Abdurrahman Bin Auf, ada baiknya sahabat mengetahui siapa sosok beliau terlebih dahulu. Kenapa? Agar ketika membaca sebagian kisahnya nanti, sahabat lebih mudah untuk memahaminya.

Abdurrahman Bin Auf lahir pada tahun gajah ke sepuluh. Tepatnya pada tahun 581 M. Usianya tidak terpaut begitu jauh dengan Rasulullah SAW, yang lahir di tahun 571 M, hanya berselisih sepuluh tahun lebih muda.

Dahulu pada masa jahiliyah, nama beliau belum abdurrahman bin auf, melainkan bernama Abu Amru, sumber lain mengatakan namanya Abdul Ka’bah. Nah, Setelah masuk Islam, barulah Rasulullah menghadiahkan nama Abdurrahman Bin Auf terhadapnya. Nama yang  kita kenal saat ini.

Beliau memiliki tampilan fisik yang nyaris sempurna sebagai laki-laki. Gondrong (persis saya), hidung mancung, bahu lebar, leher panjang, dan segala kelebihan lainya. ia mengenal Islam melalui sahabatnya Abu Bakar, dan termasuk dalam Asabiqunal awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam).

Di akhir hidupnya ia meninggalakn 36 anak, 28 diantaranya laki-laki, dan sisanya perempuan  dari ke empat orang istri. Uniknya, meski ia telah memberikan sebagian besar hartanya di jalan Allah, bahkan dikatakan habis. Namun pada kenyataanya ketika ia meninggal, ia masih memiliki warisan yang jumlahnya masyaAllah.

Baca: Langkah praktis buat artikel viral

Hal-hal apa saja yang dilakukan Abdurrahman untuk itu?

Banyak hal yang beliau lakukan, intinya beliau menjadi hamba yang sebenar-benarnya hamba. Dan melaui jalan berbisnis, ia bisa seperti apa yang kita tahu saat ini.

Ia adalah seorang bisnisman, atau Enterpreneur muslim (sama dengan Rasulullah) yang sukses, dan terkenal pada masanya.

Dan berikut adalah sekelumit rahasia yang telah beliau bagikan, terhadap ummat islam. Tentu harusnya kita bahagia menerima hadiah berupa ilmu penerapan seperti ini. yang sudah terbukti kemanjuranya. Apa hal yang membuat sahabat Rasulullah SAW ini sukses dalam berbisnis? Ini dia…

9 Rahasia Sukses Berbisnis Ala Entrepreneur Muslim Abdurrahman Bin Auf

Tidak sekadar mencari uang, melainkan mencari ridha Allah saja

inilah yang menjadikan beliau berbeda dari pelaku bisnis lainya pada masa itu. Ketika yang lain sibuk dan memfokuskan diri ke harta bisnis, beliau malah tidak terlalu mencari, lantas menghawatirkanya. Ia memilih membenarkan niatnya tidak semata-mata karena harta, melainkan karena Ridha Allah semata.

Niat hatinya yang membuat ia disayang Allah, dan diberi rezeki berlebih. Ketika ia sedang berbisnis, pikiran terhadap pemuasan nafsu dibuangnya jauh-jauh. terutama pemikiran untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya.

Abdurrahman memiliki strategi dalam bisnis. Ia mau menawarkan harga rendah terhadap calon pelanggan. Agar bisnis menjadi mudah, beliau memberikan rahasia ini.

Diceritakan di kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, ketika ia ditanya seseorang mengenai rahasia kelancaran bisnisnya. Ia pun menjawab, ”Ada tiga hal. Pertama, aku tidak pernah melewatkan tawaran untung, meski hanya sedikit. Kedua, aku tak pernah menunda-nunda pesanan satu hewan pun. Ketiga, aku tidak menjual dengan cara riba.”

Tidak masalah untung kecil, asalkan barang yang dijual banyak. Sama halnya ketika Abdurrahman menjual 1000 ekor unta. Ia hanya mengambil keuntungan sebesar satu dirham per satu unta (untung kecil). Namun lihat hasil kalinya. Kalikan saja, 1000 x 1 = 1000 dirham. Luar biasa. Amazing!!

Di lihat dari cara beliau mendapatkan keuntungan, notabene ia melakukan hal beda dengan pembisnis lain. ketika yang lain berharap pada harta, sedang ia hanya berharap, berusaha meraih ridha Allah. Dan ia selalu mempertimbangkan sesuatu dengan hukum syar’i, dengan tidak melanggar ketetapan dari-Nya.

Berorientasi terhadap Akhirat

“Permasalahan apapun di dunia kalau sudah berorientasi pada akhirat hati bakal tenang, coba saja…”

Salah satu kewajiban manusia dibumi adalah bekerja. Terlebih bagi laki-laki yang jelas kodratnya sebagai kepala rumah tangga sekarang atau nanti.

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu ke muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung” QS. Al-Jumu’ah 62:10

Abdurrahman (kepala rumah tangga) juga mengetahi hal ini. Sekaligus menjadi pembeda ke dua antara ia dan pembisnis lain.

Ia telah yakin, bahwa kehidupan di dunia hanya sementara. Urip gur mampir ngombe (hidup hanya mampir minum). Dan ia mengerti bahwa kehidupan akhirat adalah kekal, akhirat sak lawase (akhirat selama-lamanya). Baca QS. Al-Mukmin 40:39

Ia tak ingin terlena dengan urusan bisnis duniawi, dengan selalu menanam modal untuk akhirat. dengan cara memberikan yang terbaik dari apa yang ia miliki kepada umat.

Baginya, ia telah melakukan tiga hal utama dalam hidup yaitu, beribadah di masjid, berjihad, dan berdagang. Kala adzan memanggil dengan segera ia meinggalkan bisnisnya, saat jihad pun sama, bahkan ia ikhlas memberikan dagangannya untuk keperluan perang.

Ia tak pernah khawatir jadi miskin, hanya karena terus membagi-bagikan hartanya di jalan Allah, semua sebagai tabunganya di akhirat kelak.

Baca: cara menulis review pruduk yang menjual

Menunjukan sikap kemandirian

Abdurrahman pernah diberi sebuah tawaran menarik dari sahabatnya, yang bernama Sa’ad. Kalau kita yaa jelas… tidak menolak. Sudah pasti menerimanya. Di beri kok nolak… hi hi hi 😀

Tapi tidak bagi Abdurrahman Bin Auf…

Sa’ad pada masa itu berniat ingin menghibahkan separuh hartanya kepada abdurrahman saat ia baaru tiba dari hijrahnya ke madinah dalam keadaan tidak punya harta. Namun ia menolak tawaran itu, ia hanya meminta ditunjukan sebuah jalan menuju pasar.

Modal Harta itu memang penting. Namun sikap mental yang mandiri jauhlah lebih utama. Seperti yang Abdurrahman contohkan diatas. Dalam prakteknya sifat kemandirian artinya, mau memberi bukan mau menerima, dan bersungguh-sungguh dalam usaha, dan bersikap positif padanya.

Ia pernah miskin satu kali.  karena meninggalkan hartanya di Mekah untk hijraj ke madinah. Namun kemiskinann harta tidak semata-mata menjadikanya untuk miskin mental. Malah sebaliknya, mental kemandirianya semakin kuat.

Mental mandiri tahan banting, dapat menghilangkan sifat pengecut dan penakut dalam diri seorang muslim. Ia memulai dari tidak memiliki apa-apa, sampai menjadi saudagar kaya nun berhasil.

Jujur dalam tindak-tanduk (kaidah syar’i)

Jujurnya Abdurrahman tidak hanya pada pelanggan, dan kolega bisnis, melainlkan ia juga jujur kepada Allah dan Rasulnya dalam kondisi seperti apapun.

Inilah hakekat jujur sebenarnya, dimana kejujuran terhadap manusia hanya berupa turunan dari kejujuran terhadap sang pencipta.

Kejujuran wajib dalam bisnis. Diwujudkan dengan menyeleksi apakah baik-buruk, halal-haram, dsb. Cara memperdagangkanya pun harus syar’i, dengan menjauhi cara yang dilarang Allah, riba contohnya.

Sebelum masuk Islam, dirinya telah dikenal orang banyak sebagai pedagang jujur, dan pintar bersosialisasi. Ditambah pengetahuan mengenai syariat berdagang dalam Islam, bisnisnya semakin berkembang pesat. Tentu saja, karena Allah lebih meridhainya.

Jadi apa? jujur kepada Allah, dengan menerapkan syariat bisnis, diharapkan hasil jerih payah nantinya bakal menuai keberkahan. Keberkahan adalah kuncinya bisnis sukses.

Beliau selalu mengingat dan berpegang teguh pada Qur’an, khususnya dalam hal ini, QS. Al-Ahzab 33 : 36 yang artinya, “Dan tidaklah pantas bagi orang-orang beriman laki-laki atau perempuanuntuk memilih sikap laindalam urusan mereka bila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan sebuah perkara.”

Maksudnya, kita sebagai umat Islam, laki-laki atau perempuan, dilarang untuk menetapkan sebuah peraturan baru untuk menghadapi sebuah permasalahan, padahal Allah dan Rasul-Nya sudah memberikan tata cara dalam menyelesaikan permasalahn sejenis.

“Sami’na waata’na” (kami dengar kami ta’at) bukanya, “sami’na waasaina” (kami dengar dan kami ingkaris).

Banyak terjadi kasus penipuan barang yang sering kita temukan di di lingkungan sekitar. Saya sering mendapatnkanya, seperti waktu itu, niat membeli tabung melon gas elpigi, teryata isinya air saja, gasnya sehari sudah habis. Ada lagi. Kalau waktu lebaran, kalengnya kaleng moreo licin, mengkilat, terlihat baru, waktu di buka isinya kok kerupuk jengkol… 😀

Jadikan itu sebagai contoh, sebagai entrepeneur muslim yang baik, harus jujur. Jujur yang syari tentunya. Oke!

Lantas bagaimana mereka yang belum jujur?

Pedagang yang masih jauh dari sikap jujur, yang dengan elok melakukan berbagai kecurangan, tanpa memerhatikan kaidah Islam, lihatlah, perlahan-lahan ia akan mengalami kemunduran, tak sedikit berujung kegagalan. Gulung tikar. Kenapa? Kan jelas, hal seperti itu sama saja menghilangkan keberkahan dalam binis. Padahal keberkah adalah kuncinya bisnis yang sukses.

Baca: ngeblog: amalan menuju surga

Keselelarasan antara kerja keras, dan kerja cerdas

Mbah-mbah kita terdahulu mengajarkan, “kalau mau hidup enak dimasa depan itu, harus mau kerja keras. “berakit-rakit dahulu, berenang-renagan ketepian. Bersakit-sakit dahulu, enak-enakan kemudian.” ”

Itu benar, namun jangan ditelan mentah-mendah. Lah, jamanya simbah kan sudah beda.

Kerja keras memang mencerminkan semangat ke sungguh-sungguhan dari setiap orang, dan itu memang terbukti berhasil, seiring waktu berjalan. Namun ada juga, orang yang sudah bekerja keras, berpeluh keringat, banting tulang, namun belum sempat sukses. kenapa?

Tepat… karena kerja keras saja tidaklah cukup…

Uniknya, pola semacam ini sudah menjadi kebiasaan di masyarakat, diturunkan dari orang tua ke anak “kalau mau sukses ya kerja keras sana!” dan mungkin ini juga menjadi sebab kenapa negara kita masih berkembang saja sejak dulu. Sulit-maju-maju.

Tapi bukan salah simbah ya… simbah tidak pernah salah.

Kalau kita bisa melihat lebih jeli, hal tersebut kurang powerful. Ada hal lain yang perlu melengkapinya yaitu K-E-R-J-A  C-E-R-D-A-S.

Kerja cerdas mendorong kreatifitaas untuk berkarya lebih, menjadi pribadi yanag berkuantitas dan berkualitas lebih dibanding orang lain. dengan kerja cerdas, kita mampu menghemat banyak waktu, tentu dengan strategi yang tersusun secara apik.

“Kerja keras saja atidak cukup, harus dibarenagi dengan kerja cerdas. Jadikanlah keduanaya sinergi untuk tujuan yang sama.”

Abdurrahman Bin Auf adalah salah seorang yang mampu menerapkan keselarasan antara kerja keras, dan kerja cerdas.

Bagaimana bisa, setelah mengetahaui letak pasar, beliau bisa kaya dadakan? Apa beliau hanya menutamakan kerja keras saja? Oh jelas tidak. Ia menerapkan kerja cerdas nun kreatif.

Begini cara kreaatif Abdurrahman, yang mungkin bisa kita terapkan dalam bisnis masing-masing. Sebelum ia berdagang, ia akan menuju pasar. Untuk apa?  untuk melakukan riset dahulu, kira-kira barang seperti apa yang dibutuhkan oleh penduduk madinah?

Setelah megetahuinya, beliau segera mencari barang yang berkualitas baik dengan harga yang lebih murah. Hasilnya… ia mampu membuat pelanggan mengantiri untuk sekadar membeli barang dari gerai miliknya.

Kecerdasan lainya juga tergambar ketika ia membeli sebidang tanah samping pasar kosong yang cukup luas, namun dianggap kurang bernilai dimata orang lain. maka ia bisa mendapatkanya dengan harga murah.

Ia melihat betapa banyaknya pedagang dipasar yang merasa terbebani dengan mahalnya pajak yang penuh riba. Maka dari itu, ia memersilakan tanahnya untuk dijajaki para pembisnis lainya, gratis. Ia hnaya meminta imbalan, bagi hasil seikhlasnya dari pembisnis yang numpang di tanahnya.

Pedagang lain senang, Abdurrahman dapat memiliki dua keuntungan, pertama dari hasil dagangannya sendiri, kedua dari bagi hasil dengan pembisnis lainya.  

Menciptakan pelanggan setia

Yang membuat bisnis dapat berjalan stabil sebenarnya bukan dari banyaknya pembeli. Melainkan pembeli yang sudah naik tinggat menjadi banyaknya pelanggan.

Pelanggan ialah mereka yang senantiasa menunggu sesuatu barang yang dimiliki seseorang untuk di belinya, dalam waktu-waktu tertentu (rutin)

Untuk menciptakan pembeli agar mau menjadi pelangggan tentu tidak mudah, perlu banyak perbaikan di bisnis kita, entah perbaikan produk, maupun perbaikan pelayanan.

Bukan seorang Abdurrahman Bin Auf jika tidak terampil untuk menarik pembeli menjadi pelanggan. Ia selalu memiliki kelebihan yang tidak dimiliki pembisnis lain.. maka tidak heran, ia dapat menarik banyak pelanggan dalam waktu yang relatif singkat,

Langkah berikutnya yang tak kalah penting ialah mempertahankan pelanggan itu supaya tidak berpindah ke lain hati. Mempertahankan adalah hal yang lebih sulit. Namun lagi lagi, beliau dapat mengungguli pembisnis lainya, yang membuat pelangganya tidak berlari ke toko lain.

Baginya, untuk menciptakan pelanggan yang setia harus penuh memerhatikan pelanggan, di dukung dengan peningkatan kualitas barang dan pelayanan. Dari sana pelanggan puas, dan munculah rasa cinta itu di hati mereka. Ia dengan rela terbuka, dengan mendengarkan keluhan dari pelanggan sebagai bahan evaluasi bisnisnya.

Terobosan tersebut telah terbukti berhasil sampai hari ini, itulah salah satu rahasia suksesnya Abdurrahman Bin Auf.

Dengan sedekah, harta menjadi bersih dan subur

Abdurrahman Bin Auf sudah dikenal sebagai entrepreneur yang sukses dimata sahabat, maka tidak di ragukan lagi keberhasilanya dalam bisnis. Meski kaya, ia tidak mudah terlena, lupa, serta kikir untuk menikmatinya sendiri. Ia memilih berbagi, menginfakkan hartanya untuk fakir dan perjuangan umat Islam saat berjihad. Semakin banyak ia bersedekah, maka Allah senantiasa menambahkan rezeki lebih banyak lagi untuknya (baca QS. Al-Baqarah 2:26).

Hitungan matematis secara akal memang, harta yang di infakkan akan berkurang. Namun jika harta tersebut di infaakan untuk di jalan yang benar, niscaya harta tidak berkurang, malah bertambah berjuta-juta kali lipat.

Di era ini betapa banyak guru kita yang menekankan berbagi untu menambah rezeki, seperti Ust. Yusuf Mansyur, Ippo Santhosa, dan banyak lagi. AYO AMAL! Jangan AYO KERJA! Terus…

Baca: fakta menarik memiliki blog

Menjadi tuan harta, bukan malah menjadi budak harta

Allah mengatakan sendiri, bahwa dunia selain tempat bernaung untuk akhirat, juga sebagai sarana ujian. Banyak keknikmatan yang sifatanya menipu di dunia. Wanita, anak-anak, dan harta merupakan bagian yanag termasuk di dalamnya (baca QS. Ali ‘Imran 3:14 ).

Hari ini, banyak manusia yang lupa, mereka mudah terbuai, terlena dengan ke tiga contoh kesenangan yang menipu itu. Pada akhirnya, yang seharusnya ditakutkan oleh seorang muslim ialah, di perbudak oleh kesenangan dunia yang fana. Lantas lupa dengan kesengan yang hakiki, bertemu dengan-Nya di surga kelak.

Sejarah mencatat, sebelum masa Rasulullah, ada tokoh yang mewakili sifat “budak harta” siapa mereka kalau bukan Raja Firaun dan Qarun.

Mereka sama-sama memiliki harta yang berlimpah, nun megah. Namun kufur akan nikmat, dan karunia Allah SWT. Dan tidak ada ujung lain dari kesombogan seperti itu selain di tenggelamkan oleh air(Firaun), dan di telan bumi(Qarun).

Cukuplah mereka sebagai contoh betapa ketamakan akan harta, membuat rugi diri sendiri. Akankah abad ini akan lahir Qarun-Qarun baru, dan firaun baru? Semoga saja tidak yaa…

Abdurrahman telah menjadi tuanya harta, dialah yang mengendalikanya, bukan di kendalikan. Ia juga tidak pernah menikmati nikmat harta sendirian, semua orang disekitar pasti menikmati harta beliau.

Ia membagi harta menjadi hak-hak tertentu. Hak atas Allah, keluarga, jihad, dan sebagainya. Dengan begitu ia akan mampu terhindar dari perbudakan harta yang akan berujung pada kesengsaraan sendiri, nerakanya sendiri.

Rajin bersyukur

Rahasia terakhir bagaimana Abdurrahman Bin Auf bisa sukses ialah, dengan menjadi insan yang pandai mensyukuri nikmat. Segala nikmat yang telah Allah limpahkan kepadanya, ia syukuri dengan hikmat, dan tak lupa membagikanya, melanjutkan nikmat itu ke manusia lain.

Syukurnya di wujudkan ke dalam bentuk berbagai amalan, seperti amalan hati(berperasangka baik pada Allah), lisan(zikir, tahmid), dan perbuatan(sedekah, berbagi).

Ia merupakan teladan bagi kita, soal hakikat dari syukur. Ia tak pernah mengeluh sedikitpun tentang apa yang ia terima dari Allah. Hujan bersyukur, panas ya bersyukur.

Semakin seseorang pandai bersyukur,  semakin sukses pula lah usahanya di dunia, juga di akhirat. Semoga kita termasuk orang-oranag yang pandai bersyukur yaa… Aamiin.

Itu dia 9 rahasia sukses entrepreneur muslim ala Abdurrahman Bin Auf. apa yang beliau katakan sangat cocok dengan kita hari ini.

Kesimpulan

Banyak sedikitnya harta itu sama saja, tergantung bagaimana cara kita melihat. Jadilah seorang hamba yang benar-benar menghamba, dengan jalan taat sesuai syariat. Maka, tanpa meminta pun rezeki itu sudah hadir. Bukankah rezeki sudah di jamin Allah dari lahir dampai kematian?

Dalam berbisnis, usahakanlah untuk tetap berpegang erat kepada tuntuna Islam, karena itu akan membawa keberkahan tidak hanya di dunia, melainkan juga keberkahan di akhirat.

Banyak jalan menuju surga, sama halnya jalan kesuksesan, ada banyak jalan menuju sukses. Tidak hanya melalui jalan bisnis, Karena hakekat manusia itu diciptakan berbeda, dengan talenta masing-masing yang unik.

Nenek moyang kita terdahulu, khususnya suku jawa telah memahami hakekat utama manusia ini. maksud dan tujuan manusia diciptakan yang tercermin dalam ungkapan, “Hamemayu hayuning buwana” yang artinya, memperindah dunia yang sudah indah. Mengindahkan dunia dengan telenta masing-masing.

Paham?

Banyak kok penulis yang sukses, sutradara sukses, penyanyi, pilot, dokter, ya pada dasarnya semua pekerjaan adalah perniagaan. Menjual tenaga, berupa jasa.

Aad juga pekerjaan yang terkesan rendahan, maaf. Menjaga toilet, tukang sapu jalanan, dan lainya. jangan salah, jika mereka dengan sabar menekuni hal ini. ia dipandang tinggi drajadnya ole Allah, diabndingkan mereka yang memiliki pekerjaan bagus tapi lupa bersyukur.

So, pesan saya pribadi… Lanjutkan apa pun pekerjaan sahabat hari ini, sesuai talenta masing-masing. Jika belum nyaman, hadapi dengan syukur dan sabar. Mungkin saja itu sebagai ujian, sekaligus batu loncaatan untuk pekerjaan masa depan. siapa tahu kan…

Semua orang bisa sukses berangkat dari bidang apa pun. Untuk yang belum bisa menemukan talentanya, silakan dicari dahulu. Kalau selo (senggang) silakan cari kontak saya, kita bisa diskusi bersama.

Ada tambahan yang perlu sahabat tahu, mengenai Abdurrahman Bin Auf ini. Pernah di jelaskan dalam sebuah riwayat, (maaf saya lupa) bahwa beliau pernah merasa bosan dengan hidupnya yang kaya, bergelimang harta.

Ia meminta kepada Allah, agar diberi kemiskinan, namun apa jawabanya? Allah malah memberinya harta. Harta, dan harta. Beliau adalah salah satu sahabat Rasulullah telah gagal. Gagal untuk menjadi miskin. Hihihi…

Bagi saya, ini merupakan wujud keromantisan antara hamba dengan Tuhannya. Tergambar dengan kisah yang penuh makna, yang akan membuka banyak pikiran, dan banyak hati. Dimana hati seorang hamba telah hidup bersama Allah, sampai tidak meminta pun sudah di beri.

….Inginkah sahabat seperti itu?

Sumber kutipan:

Al-Faruq Asadullah. 2012. Rahasia sukses dagang Muhammad dan Abdurrahman Bin Auf. As-Salam Publishing. Solo.

Oke, trimakasih sudah mampir untuk membaca. Yuk, gabung ke grup bagi yang ingin belajar tentang bisnis Internet disini!

Jangan lupa share yaa…

Baca juga=>Nasehat Jack Ma: 5 hala yang mendekatkan manusia pada kekalahan

 

 

Tags: , , ,


About the Author

adalah seorang penulis yang juga memiliki minat di internet marketing. Semua berawal dari sejarah, dan dari sana juga ia tercipta.



Back to Top ↑