3 Langkah Cerdik Menyaring Informasi Negatif di Era Digital

Tips & Motivasi

Published on Mei 17th, 2018 | by Ibnu

3 Langkah Cerdik Menyaring Informasi Negatif di Era Digital

Bergosip? Hmm asyik tuh …

Apalagi kalau bahas topik panas yang diomongkan banyak orang.

“Eh, tahu nggak, si Anu. Iya … si Anu. Kemarin pergi sama si Anu hlo … dan berangkat pagi pulang dini hari. Hmm … ngapain saja mereka, ya?”

Kalau telinga sudah menangkap uraian pernyataan seperti di atas dari orang lain, saya sarankan untuk segera tutup telinga dan lari secepat mungkin dari sana.

Kenapa? Karena itu ghibah (membicarakan aib orang lain) dan itu informasi negatif. BERBAHAYA!

Kebiasaan ghibah, wajib kita tinggalkan. Mari belajar bagaimana cara menyaring Informasi negatif.

Memang, ghibah itu menyenangkan, asyik, seru, dan sayang untuk dilewatkan. Kadang ghibah juga menambah kepintaran dan menambah wawasan (wawasan buruk maksudnya). Ha ha ha …

Namun sayang, dibalik kenikmatan nan seru tersebut, ada segelontor keburukan yang perlu kita membuat kita pikir ulang sebelum melaksanakan aktivitas ghibah. Itu baru bicara keburukan, belum dosanya lagi.  Huehuehue …

Nabi sudah memperingatkan dalam sebuah hadist: “Belum dikatakan mukmin seseorang yang belum bisa menghindari segala sesuatu yang tidak perlu baginya.”

Jadi hati-hati mulai sekarang, gara-gara ghibah, kemukminan kita bisa diragukan. Kan, sayang!

Nah, sekarang jujur … Apa kamu pernah melakukan ghibah, membahas aib dibelakang seseorang? Atau sudah menjadi hobi setiap  hari?

Kalau sudah pernah, saya sarankan, berhenti sekarang juga. Kalau belum pernah, bagus, tapi saya bilang: “Nggak mungkinnnnn!” semua orang, muda-tua pasti pernah melakukan hal yang termasuk dalam dosa besar menurut Islam ini.

Di bulan Ramadhan nan suci sekarang, marilah kita bermusahabah diri, dengan mengenali sifat-sifat buruk masa lalu. Katakan kalimat ini dalam hati: “Tidak boleh waktu istemewa ramadhan terlewatkan begitu saja, apalagi karena ghibah!

#2019Gantihobi 😀

Ramadhan adalah bulan pendidikan, sebuah momen yang sempurna untuk menempa diri menjadi manusia kembali.

O, ya, kita tidak hanya bicara bagaimana menghindari ghibah saja. Melainkan segala bentuk pencegahan terhadap informasi negatif, ghibah adalah contoh sederhananya.

Disadari atau tidak, media acap kali memproduksi informasi negatif, entah itu TV, internet, koran, radio, game, musik, dan banyak lagi.

Saya pernah dibikin pusing gara-gara hal ini, “Media sudah benar-benar keterlaluan, terutama TV!”

Tapi mengkritik hal semacam itu, ketika melihat realita bahwa saya bukan siapa-siapa di dunia per-mediaan, ya sudah, nggak ada hal lain yang bisa saya kerjakan selain melindungi diri sendiri, keluarga, sahabat, dan masyarakat melalui tulisan. Edan Mas Ib, keren banget Mas! Nomor WA mana mas? Aku minat! <3

Pada akhirnya, semua itu kembali kepada diri sendiri. Kita tak bisa menyalahkan pihak lain terus-terusan. Malah gila sendiri nanti …

Yuk, saya mengajak rekan-rekan pembaca semua, untuk sadar dan menjadi manusia kembali.

Apa?!!!!!! *jengjeng … berarti sekarang ini, kami bukan manusiaaaa?”

Hanya Tuhan yang tahu …

Kita (manusia modern) harus lebih cerdas lagi, terutama saat memilah-milah segala informasi yang akan dikonsumsi.

Meninggalkan aktivitas buruk ghibah dan menghindari informasi negatif bukan hal gampang hlo, terlebih jika itu sudah menghabituasi di dalam diri kita.

Tapi jangan khawatir, tulisan ini hadir sebagai pengingat diri saya sendiri, dan semoga bermanfaat buat sesama. Insya Allah …

Seorang sahabat pernah bertanya pada saya, “Ibnu, kenapa sih kamu nggak pernah nonggol ikut nimbrung di grup WA mana pun? Nggak punya kuota, kamu?”

“Sederhana.” kata saya. “Karena aku nggak tahu apa-apa yang sedang orang lain bahas, dan itu terasa kurang penting buatku.” Halah, yang benar, ya nggak punya kuota itu … 😀

Manusia bagaikan sepotong spons penyerap otomatis. Ketika terbiasa mendapat rangsangan buruk di indera mereka (mata, telinga) secara berulang-ulang, maka bisa dipastikan kualitas hidup dari orang tersebut menjadi rendah.

Bagaimana tidak? Jika orang sudah berkutat dan membahas hal tidak penting, mereka akan terjebak di sana. Kalau sudah terjebak, susah untuk keluar, dan akhirnya mereka merasa hidupnya juga tidak penting. Saya berani mengatakan hal menyakitkan ini, karena saya pernah mengalaminya sendiri.

Nabi Socrates

Socrates adalah seorang filsuf asal Yunani. Ia lahir di Athena pada tahun 470 SM dan meninggal karena dipaksa meminum racun pada tahun 399 SM. Kisahnya tragis, sumpah bikin nangis. Ada banyak pelajaran yang bisa kamu ambil di kisahnya.

*wajib baca sendiri, saya nggak akan kuat harus menceritakannya di sini

Peneliti asal Malaysia beberapa tahun lalu membuat geger dunia ilmu. Kajiannya dalam bentuk buku  telah menduga bahwa Socrates ini bukan seorang filsuf hebat saja, tetapi ia juga seorang nabi Allah.

Sedikit saya bahas deh, biar nggak penasaran.

Jadi peneliti tersebut menyangkut-paut ’kan Socrates dengan kisah dalam Quran yang menceritakan tentang keluarga Lukman. Dan menurut saya banyak korelasi terjadi di sana. Seperti ciri fisik, kesamaan ajaran, dan banyak lagi.

Dan yang paling menohok saya ketika membacanya adalah, ternyata “Lukman” itu adalah sebuah gelar, yang dalam bahasa arab maknanya “Orang yang mereguk racun” dan kita semua tahu bahwa Socrates wafat karena dipaksa minum racun.

Allah maha tahu apa yang hambanya tidak tahu …

Oke, kita fokus kembali, ya …!

Socrates dalam perjalanan hidupnya, melahirkan banyak nasehat dan ilmu, salah satunya Socrates memberikan tips yang sangat berguna untuk kita hari ini.

Tips itu dinamainya dengan,  “Triple filter ” atau “Tiga lapis penyaring.”

Jadi ketika kamu mendapati sebuah objek pembawa informasi. Entah itu melalui manusia langsung atau lewat media. Tahan dulu untuk melahap informasi di dalamnya, dan coba gunakan tips hebat ini!

Sepertiapa sih tips, “tiga lapis saringan itu?”

Tiga lapis penyaring: Bagaimana menyaring nformasi negatif?

Saya ulangi.

Cobalah, sebelum mengkonsumsi informasi apa pun dari siapa pun, terapkan tips-tips di bawah ini agar selamat. Rumusnya sederhana yaitu:

KEBENARAN – KEBAIKAN – KEBERGUNAAN

Bagaimana cara menggunakannya?

Saya memiliki seorang teman, ia dikenal seorang ahli gosip. Misal ada perkuliahan gosip, mungkin makomnya sudah setingkat profesor. Sebutlah namanya Toit.

Siang itu, Toit datang menghampiri saya yang sedang santai membaca buku di beranda rumah. Satu hal yang perlu kalian tahu adalah, ia hanya datang jika ada berita gosip terbaru. Karena sudah hafal, saya pun berusaha berkelit, untuk menghindar dari aktivitas bergosip ria khasnya.

Langkahnya tinggal beberapa meter dari tempat saya duduk. “Stop!” kata saya, “berhentilah di sana dulu, pokokoknya berhenti saja!”

“Ada, apa toh ini?” Toit bertanya heran, “orang mau cerita, kok malah disuruh berhenti?!”

“Tunggu dulu.”kata saya, “sebelum kamu ke mari untuk bercerita, izinkan aku bertanya beberapa hal tentang ceritamu …”

“Silakan.” timpalnya.

“Ceritamu itu cerita benaran atau bohongan?”

“Benar, kok! Sumber valid, sudah terverifikasi kominfo, ha ha ha …”

Jika lawan bicara mengatakan benar, tetap tahan dulu, sabar, pastikan pertanyaan lapis kedua bisa ia jawab.

“O, jadi hal itu benar. Nah, jika hal itu benar, apakah hal itu juga ada kebaikannya buatku?”

“Hmm, mungkin, ya, mungkin tidak.”

Sampai di sini sebenarnya kita bisa berhenti, dan memilih tidak menerima informasi tersebut. Soalnya sudah ada keraguan di sana (subhat). Tapi jika ingin lebih yakin, pakai pertanyaan lapis ketiga!

“O, jadi itu cerita benar, dan belum tentu ada manfaatnya, ya?” tanpa bertele-tele saya bertanya lagi, “ceritamu ada gunanya nggak buat aku?”

“Setelah kupikir-pikir, kelihatannya tidak.”

“Ya, sudah, disimpan saja ceritanya dulu, nggak usah diceritakan ke aku. Walau itu benar, tapi manfaatnya belum pasti, dan itu jelas nggak berguna buatku. Jadi untuk apa aku dengar? sini, ngopi bareng saja!”

(Ceritanya agak mirip sama yang dialami Socrates, mungkin saya cucunya beliau :D)

***

Sudah faham belum?!

Sekarang coba praktekkan dulu, kalau ada orang mendekat membawa aroma gosip, pertama tahan! lakukan seperti cara Socrates tadi.

Seperti yang saya bilang diawal, metode ini berlaku di gaya informasi apa saja. baik yang tertampil di media sosial, TV, radio, koran, dan media informasi lainnya. Caranya cukup dengan mempertanyakan tiga lapis pertanyaan tadi pada diri sendiri.

“Eh, ada informasi penting! Apa ya ini? judulnya kok begitu, benar nggak ya? apa ini ada manfaatnya jika kubaca? Dan ada gunanya nggak informasi ini?” jika itu tambah sebuah keraguan, saran saya lebih baik ditinggalkan.

Waktumu berharga, masih banyak hal lain yang bisa dilakukan selain mengotori pikiran dari informai negatif. Ghibah termasuk aktivitas memproduksi konten negatif.

Catat ini!

“Waktu bukanlah uang, atau sesuatu yang lebih rendah dari uang (bom). Tapi waktu adalah sebuah pertanggungjawaban nan sempurna, terhadap pemilik waktu sejati, Dialah Tuhan.”

Oke. Sekian dulu artikel saya kali ini, semoga puasa kita bersama diterima oleh-Nya.

Kritik dan saran siap saya tampung untuk pembelajaran berikutnya. Dan jika artikel ini bermanfaat, jangan lupa bagikan kepada sahabat-sahabat lainnya di luar sana! trima kasih …

Baca juga: 8 Tips Penting Yang Wajib Kamu Lakukan Sebelum Memilih Guru (mastah) di Era Digital

Tags: , , ,


About the Author

adalah seorang penulis yang juga memiliki minat di internet marketing. Semua berawal dari sejarah, dan dari sana juga ia tercipta.



Back to Top ↑