Writing

Published on Oktober 31st, 2017 | by Ibnu

Mengikat Ilmu dengan Tulisan

Bicara Alasan

Tahu alasan kenapa ibu bapak kita dimana pun mereka berada berusaha untuk selalu menyekolahkan putra putrinya sejak paud sampai ke perguruan tinggi? Mungkin alasanya hanya satu yaitu agar anaknya menjadi orang yang bisa diharapkan, dan berilmu. Wajar saja toh, dengan ilmu harapan cita-cita seseorang bisa dicapai, dengan ilmu hal yang tampak susah bisa menjadi mudah, dengan ilmu yang tak mungkin menjadi mungkin. Banyak keajaiban dari ilmu lainya. Minimal sahabat harus memahami, ilmu merupakan sarana penghubung dengan-Nya.

Saking pentingya si ilmu ini, setiap negara di dunia pasti mengusahakan masyarakatnya dapat menyambangi ilmu dengan mudah, dengan mendirikan sekolah, universitas, membangun perpustakaan, menciptakan ruang diskusi, dan sebagainya. Di Indonesia kita tahu ada program wajib belajar sembilan tahun (SD,SMP, dan SMA) untuk seluruh warga. Tak hanya pemerintah, organisasi dan gerakan masyarakat pun juga banyak berperan aktif  dalam bidang ini, di pelosok desa, dan juga kota. Seperti, membikin perpustakaan keliling, becak dengan buku, donasi buku untuk desa, gerakan ayo baca buku, dan banyak lagi. Begitulah pentingya sebuah ilmu bagi diri seseorang, dan bagi suatu bangsa.

Nah, sekarang bagaimana upaya kita untuk memperoleh ilmu? Dengan sekolah kha? Yang hanya duduk dibelakang mendengarkan guru menjelaskan, melihat video pembelajaran maupun tutorial, membaca, atau menyimak pembicaraan orang? Semua itu adalah proses peneransferan ilmu, atau sebagai usaha mendapatkan ilmu, namun tahukah rekan semua, bahwa itu saja tidak cukup untuk menjadikan diri kita berilmu, lebih penting lagi cara untuk mengendapkan sebuah ilmu dalam diri, dan bisa di terapkan dalam keseharian.

Mari melompat ke belakang, dan kembali ke masa sekarang. Dari dulu sahabat mengenyam bangku sekolah, seberapa banyak ilmu yang sudah benar-benar  bisa dipahami; 70%, 50%, atau bahkan 20% ilmu? Jika keseluruhan sahabat paham 100% rasanya mustahil, karena otak manusia juga memiliki keterbatasan kemampuan mengingat. Lalu apa upaya kita selanjutnya, agar ilmu yang kita terima dimana pun oleh siapa pun dan nantinya bisa mengendap lama di memori, sehingga bisa menjadi insan yang bermanfaat dengan ilmu?

Perlu dicatat dan diketahui dahulu hakikat mengenai ilmu bahwa; ilmu itu liar, sama halnya dengan hewan buas di hutan belantara yang sulit dikendalikan, sulit ditangkap, maupun sulit dijinakkan. Maka untuk mengatasinya sahabat harus mengikatnya. Mengikat bukan dengan tali seperti hewan, melainkan harus mengikatnya dengan tulisan.

Menulis merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh manusia dengan menyusunan sebuah kata atau kalimat yang disepakati, simbol-simbol tertentu, melalui media tulis sampai membentuk makna, maupun arti tertentu. Menulis juga diartikan sebagai salah satu cara untuk menyampaikan pemikiran  melalui media tulis, memahamkan orang lain dengan media tulis.

Ketika kita menulis, sama saja kita sedang menciptakan sejarah diri kita sendiri.

Masyarakat zaman now, kebiasaan menulis masih belum begitu populer, kebanyakan masih malas untuk menulis. Namun patut disyukuri, dewasa ini semenjak media sosial booming di kalangan remaja-dewasa, perlahan masyarakat mulai membiasakan diri untuk menulis, walau hanya berbentuk status. Itu pun sekadar curahan hati, atau sekadar bicara ndak jelas, neko-neko. Tak menjadi masalah, itu sudah menunjukkan hal baik, sudah lumayan  meningkat minat menulis masyarakat Indonesia. Namun sebenarnya bukan hal itu yang akan kita bahas, melainkan hubungan antara menulis dengan kemelekatan ilmu, dan manfaat untuk masa depan dan orang sekitar.

Terlambat untuk sadar, kalau saya sebenarnya memiliki bakat menulis sejak duduk dibangku kelas XI di salah satu SMA di Kabupaten Klaten. Waktu itu saya sering dimintai tolong siswa yang hobi membolos untuk dibuatkan surat izin palsu supaya bisa memanipulasi catatan kehadiran mereka. Supaya, semua terlihat aman baik-baik saja (yang pernah sekolah harusnya ngerti). Dari sana saya paham dan bertekad bahwa pekerjaan masa depan saya nantinya tak bakal jauh-jauh dari serba-serbi tulisan.

Meninggalkan pengalaman konyol barusan. Kira-kira sahabat baca disini sudah rajin menulis belum? Jika sudah alhamdulillah, bisa saya jamin kalian calon orang sukses di masa depan mendatang. Dan untuk yang belum bisa membiasakan diri untuk menulis, kalian beruntung detik ini bisa mebaca tulisan blog ini, karena tak semua orang bisa seberuntung dan mau membaca lalu mengambil pelajaran dari setiap perbuatan. Allah lah yang mempertemukan kita yadooh!. Maksudnya tulisan ini dan hati teman-teman pembaca.

Kenapa menulis?

Seorang teman bertanya pada saya waktu itu, kenapa kamu suka menulis hal-hal tak jelas seperti ini dilembaran kertas bekas kotak snack? Dengan bangga saya menjawab, saya mau masuk surga, dan mempersembahkan mahar berbentuk buku pada istri saya nantinya. Dia pun tertawa mendengarnya, lalu pergi begitu saja.

Mimpi memang perlu ditertawakan, mungkin petanda mimpi itu sudah cukup tinggi. Jadikan itu sebagai pemacu semangat kita meraih apa yang dicita-citakan.

Setiap orang punya alasan sendiri yang berbeda, mengapa dia harus menulis. Itu tak masalah. Namun yang jelas menulis adalah suatu usaha untuk menjadi abadi. Mungkin umur manusia tak sampai seratus tahun, namun tulisan bisa hidup sampai kapan pun. Bahkan seribu tahun. Seseorang akan mendapatkan sesuai apa yang diniatkanya. Dan  dari alasan itu menentukan menjadi penulis seperti apa dia esok hari.

Ada pula orang-orang menulis dikarenakan hal-hal tertentu, seperti halnya; hobi, mengisi waktu kosong, tuntutan pekerjaan, berbagi ilmu, berkomunikasi, ingin terkenal, dan lainya. Semua bagus. Tidak jadi masalah. Tak mengapa jika begitu, tetap lanjutkan kebiasaan ini. selama itu positif, lanjutkan.

“ Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” (Pramoedya Ananta Toer)

Ikatlah ilmu dengan tulisan

Tulisan bukanlah tali, tapi ia adalah pilinanya. Yang mampu mendekap siapa pun tak peduli dimana ruang sejarah ia tinggal.

Saya pernah mengikuti kajian remaja bersama Ust. Ransi Indragari asal  Riau, dia menerangkan mengenai pentingya menulis untuk masa depan. kebiasan menulis ulang ilmu sejak dini, akan memengaruhi, akan banyak membantu seperti apa kita dimasa depan nanti, dan orang yang sukses mereka ialah orang yang menulis. Begitu ujar beliau.

Membaca saja tidak cukup, mendengar pun sama, lengkapi keduanya itu dengan menulis. Di yakini dengan menulis, respon otak terhadap objek yang ditulis akan mengendap lama di memori. Tak percaya? Perhatikan pemain bulu tangkis. Mereka kok sanggup menepis bulu bebek berkecepatan sangat tinggi saat serangan smash? Kerja otak kah? Bukan. Itu adalah gerak reflek tubuh. Kesimpulanya apa? ingatan akan lebih konstan jika diupayakan dengan gerak, jadi kalau ada orang bilang, “dengkulmu tuh pakai buat mikir…” itu sah-sah saja, dan jangan malah mengatainya balik.

Dunia membutuhkan manusia yang bisa menulis

Saya sangat beruntung, bisa merasakan pahitnya kurikulum dunia yang kejam itu di usia muda, dengan  pernah bekerja sebagai buruh dahulu. Saya jadi bisa nyolong star dari teman-teman yang lain, mereka yang belum merasakan kehidupan sebenarnya. Dari pengalaman berharga itu, saya mengetahui apa saja sih yang dibutuhkan dunia untuk masa depan. Salah satunya ini; dunia sangat membutuhkan orang yang bisa menulis. Betapa pekerjaan menulis esok akan sangat dibutuhkan dilingkungan kerja mana pun. Dan disegala jenis perusahaan apa pun semua membutuhkannya. Silakan sahabat bisa survey sendiri.

“Makan dari tulisan, Apa bisa?”

Jawabanya adalah bisa sekali, bisa banget, sangat bisa. Memang, masyarakat kita memandang sebelah mata mengenai profesi yang kaitanya dengan tulis menulis, apalagi menulis sastra. Itu salah besar. Pandangan demikian harus segera sahabat hapus dari pikiran, karena faktanya amat bertolak-belakang.

Banyak hlo hari ini orang sukses berkat menulis, entah lewat buku cetak, media internet seperti ngeblog, ngeweb, jasa pengiklan, dan banyak lagi. Sesuaikan saja dengan minat rekan saat ini. Belajar, dan konsisten, nanti uang juga akan menghampiri. Kalau untuk makan saya rasa cukup. Keep writing!

Menulis dan akhirat

Sesuatu yang tampak berbeda di dunia ini sebenarnya saling keterkaitan, hanya saja pikiran kita sedikit dibuat mandek oleh diri kita sendiri. juga terpengaruh oleh pikiran orang lain. bahkan bumi dan langit itu punya kesamaan. Begitu juga menulis dan akhirat. Tataran materi dan magis yang salaing berhubungan.

Akhirat adalah kehidupan setelah dunia, disana nantinya kita akan memetik hasil jerih payah selama hidup didunia. Dan tentu kita tak boleh melewatkna hidup di dunia ini untuk berleha-leha saja. Kesempatan hidup adalah anugrah. Gunakan sebaik-baiknya untuk berkarya, bermanfaat bagi sesama. Maka menulislah hal baik…

Bayangkan saja, orang yang dahulu memiliki ide untuk menuliskan Al-Quran dalam mushaf? Sudah berapa ratus tahun? Namun tulisannya masih abadi dan dibaca oleh seluruh umat Islam. Denga menulis hal-hal yang baik, menginspirasi orang banyak, mudah-mudahan akan melapangkan perjalanan kita di akhirat kelak. Aamiin.

“hidup itu bukan untuk mati saja, hidup untuk membuat arti. Jadi, sekali berarti baru boleh mati”(Ibnu Prihatmoko)

Sekian tulisan dari saya ini, semoga dapat mengispirasi. Jangan lupa share ya…

Bagi yang ingin tertarik dalam dunia internet marketing, dan bisnis online, sahabat bisa join grup Facebook disini!  

Baca juga=> Senjata untuk Sukses Bisnis Affiliate


About the Author

adalah seorang penulis yang juga memiliki minat di internet marketing. Semua berawal dari sejarah, dan dari sana juga ia tercipta.



Back to Top ↑