Ayo Belanja Online Ala Konsumen Cerdas di Era Digital

Personal

Published on April 14th, 2018 | by Ibnu

Ayo Belanja Online Ala Konsumen Cerdas di Era Digital

Konsumen cerdas di era digital—Belanja itu menyenangkan. Yang tidak menyenangkan adalah memilih barang dari sekian banyak model, memfilternnya secara langsung ditempat, dan saat itu itu juga.

Belanja itu menyenangkan. Yang tidak menyenangkan adalah ketika harus bepergian jauh, mengeluarkan biaya transpot tambahan, hanya untuk barang yang diidam-idamkan. Itu pun belum tentu ada jaminan soal ketersediaan barang.

Belanja itu menyenangkan. Yang tidak menyenangkan adalah ketika harus berdesak-desakan  untuk mengantre, rasa bosan yang menggelayuti, hingga jemunya menunggu.

Coba bayangkanlah seperti ini:

Ceritanya kamu sedang membutuhkan smartphone baru. Anggaplah ponsel lamamu rusak akibat tercebur kolam. Faham?

Anggaran sudah tersedia sekian juta, pokoknya tinggal bayar. Tapi kamu belum menemukan smartphone apa yang cocok yang ingin dibeli.

Tatkala kamu sedang asyik menonton acara TV, tiba-tiba munculah sebuah iklan—smartphone super keluaran terbaru.

Dari memperhatikan iklan tadi, munculah keinginan untuk memilikinya, sudah tak sabar ingin membelinya. Anggap saja, sore ini, waktu kamu senggang, dan bersiap belanja ponsel di  konter terlengkap dikotamu yang berjarak lumayan jauh.

Itu pilihan pertama. Membelinya di konter, secara langsung (offline).

Sore-sore, sudah mandi (biasanya nggak pernah mandi ‘kan?), pakaian pun serba rapi, badan harus wangi, sepatu harus trendi. Eh, ketika berjalan kaki, menuju motor kesayangan, baru beberapa langkah, mendadak hujan sudah menyirami. Badai pun menghantui. Akhirnya …. tak jadi beli!

Cerita ini mungkin agak berlebihan saya pikir, tetapi ini sering terjadi.

Semua orang pasti pernah merasakannya. Ingin belanja, eh, kepentok cuaca.

Itu piliha pertama, dengan sad ending.

Ceritanya akan berbeda, mungkin happyending jika menggunakan cara kedua.

 

Saat hujan tiba sore itu, ketika kamu mengurungkan niat untuk ke konter, kamu kembali masuk rumah.

Dengan memakai baju rumah, lalu kamu meminjam ponsel ibumu: memesan smartphone incaran via online.

Klik-klik-klik tinggal klik: pilih dan bandingkan harga – Pesan – Bayar – Barang siap diantar.

Belanja di era digital sangat menyenangkan.

B-e-l-a-n-j-a O-n-l-i-n-e

Anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, sampai kakek-nenek, semua akan mengatakan “Berangkat!” jika diajak belanja (apalagi digratiskan); saya dan kamu pasti langsung berlari mengejar.

Lihat dirimu, atau .. lihat orangtuamu. Untuk apa mereka berusah-payah bekerja mencari uang? Untuk dibelanjakan bukan?

Belanja merupakan aktivitas pemenuhan kebutuhan maupun keinginan, menggunakan sesuatu alat tukar berharga (uang). Kebutuhan-kebutuhan pokok seperti makanan, bisa dengan mudah didapat dengan belanja.

Di peradaban digital hari ini, berbagai cara baru belanja pun tercipta. Sedang booming hari ini adalah belanja online.

Nenek moyang terdahulu mungkin, belum pernah merasakan mudahnya belanja online. jadi sensasi belanja tanpa antre, cepat, efisien, tak peduli cuaca, mereka belum rasa.

Belanja online merupakan penemuan luarbiasa abad ini, di mana semau pekerjaan muali beralih ke sisitim digital melalui internet.

Tapi tunggu sebentar …

Bagaimana dengan penipuan online yang marak terjadi hari ini?

Malu untuk mengatakannya. Sebenarnya saya juga pernah tertipu/dirugikan saat belanja online. Barang yang saya pesan, ternyata jauh dari harapan.

Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain, karya Dale Carnegie, adalah judul buku yang saya ingin. Kira-kira sebulan lalu.

Dua hari setelah saya meneransfer sejumlah uang kepada penjual, buku itu pun sampai. Pak kurier mengantarkannya.

Saya sudah tak sabaran ingin segera menamatkan buku itu. Dengan cepat, saya pergi ke sarang (kamar), menutup pintu, dan mempelajarinya.

Bab-bab awal yang sangat menarik, membuat saya ingin terus membacanya. Namun saat sampai di bab ketiga, setelah kira-kira satu jam membaca, tiba-tiba ada bunyi, “Kreeek!” dari buku.

Ironi pecah sesaat, ketika saya dapati, buku baru itu, buku yang baru diantar pak kurier dua satu jam lalu; telah tercecer berantakan. Bagian buku dan sampul sudah terpisah.

“Ya, ampun … buku baru kok rusak?!” omel saya seketika.

Kejadian “tertipu barang palsu (bajakan)” semacam itu sudah sering saya alami kala berbelanja online, tidak sekali dua kali saja, melainkan banyak kali. Kenapa?

Seringkali konsumen seperti saya sering terkecoh dengan iming-iming harga murah. Seringkali harga murah, membunuh logika saat membeli.

Saya tak ingin kejadian buruk seperti ini terulang lagi, baik diri sendiri, keluarga, dan juga sahabat-sahabat. Saya harus menjadi konsumen cerdas di era digital! titik!

Data dan fakta seputar belanja online

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendapatkan ada sebanyak 642 peraduan konsumen sepanjang tahun 2017. Dan dari sepuluh keluhan, nomor pertama soal belanja online dengan persentase sebesar 16 %. Beberapa orang cenderung menyebutkan persoalan belanja online karena masih lemahnya sistim regulasi, refund yang tak diberikan, produk tidak sesuai keinginan, dugaan peretasan akun, cacat produk, pelayanan, informasi yang salah, hingga barang terlambat sampai.

Tidak dipungkiri memang, dibalik sejuta kebolehan yang ditawarkan, tetap saja belanja online memiliki duri, yang kalau tidak hati-hati, bisa melukai.

Maka dari itu, dalam rangka memeringati Hari Konsumen Nasional (HARKONAS) pada setiap tanggal 20 April, pemerintah dengan koordinasi Direktorat Pemberdayaan Konsumen, Direktorat Jenderal Standarisasi dan Perlindungan Konsumen, serta Kementrian perdagangan terus memotivasi, dan membangun konsumen cerdas.

Momen satu kali dalam setahun ini, juga merupakan pengingat bagi masyarakat agar senantiasa mencintai produk dalam negeri.

Nah, berbeda dari tahun sebelumnya, kini, HARKONAS tahun ini, penyelenggara mengusung satu tema yang sangat menarik, yaitu: “Konsumen Cerdas di Era Digital.”

Coba, lakukan ini lagi:

Bayangkan, jika kamu kurang hati-hati (tidak cerdas) dalam membeli sebuah produk online di era digital. Dan berakhir dengan penipuan.

Harapannya mendapat barang nan berkualitas, eh, malah-malah menundukkan kepala karena tercurangi.

Sekarang bayangkan lagi …

Jika kamu sudah menjadi konsumen cerdas di era digital. Hmm, pasti belanja jadi benar-benar mengasyikkan bukan?

Maka dari itu,  sudah … tidak ada alasan lagi, untuk tidak menjadi konsumen cerdas mulai hari ini.

Ingin menjadi konsumen cerdas yang tidak mudah tertipu? atau … menjadi konsumen yang biasa-biasa saja, yang rentan jadi korban penipuan online?

Tingkat belanja online setiap tahunnya selalu meningkat

Bolton Consulting Group (BCG), tahun 2013 lalu memprediksi: tahun 2020 kelak, sudah lebih dari 54 persen dari total penduduk Indonesia, siap melakukan transaksi sehari-hari melalui internet.

Itu berarti di masa depan, Indonesia sudah sangat akrab dengan segala sesuatu yang serba online.

Ada lagi … kali ini data riset milik sebuah Marketplace Indonesia tahun 2012. Ada 41 % transaksi mereka bersumber dari Ibu kota. Statistik berubah 6 bulan kemudian, angka tersebut turun drastis, dan dengan mulai aktifnya daerah lain berbelanja online.

Peran pemerintah dalam menciptakan konsumen cerdas Indonesia

Demi mengawal pesatnya perkembangan ekonomi era digital, pemerintah Indonesia sudah menyiapkan berbagai perlindungan untuk konsumen. Lembaga yang ditunjuk bertanggung jawab atas ini salah satunya adalah OJK.

Lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memiliki satu dari sekian tugas pokok yakni menjaga, serta melindungi, segala bentuk kepentingan konsumen, dalam aktivitas ekonomi di masyarakat.

OJK telah berpengalaman menghadapi krisis. Hingga menemukan 5 masalah pokok konsumen di era digital seperti: informasi yang asimetris, perlakuan tidak adil terhadap konsumen, kualitas pelayanan nan buruk, penyalahgunaaan data konsumen, hingga penanganan pengaduan konsumen yang kurang efektif.

Maka lahirlah Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK). Bertujuan untuk melindungi konsumen dari berbagai macam kecurangan terjadi saat bertransaksi.

Perlindungan konsumen adalah syarat absolut demi mewujudkan ekonomi sehat suatu negara.Tercipta melalui keseimbangan antara konsumen dengan pelaku usaha.

Berdasar UU No 8 tahun 1999 soal perlindungan konsumen, intinya, pemerintah membuatkan sistim untuk ditaati pelaku usaha, supaya tertib dan beretika bisnis yang baik.

Konsumen berhak mendapatkan informasi transparan, jujur, terbuka, mengenai konsisi dan jaminan barang.

Peraturan tersebut sudah terbit, tapi, tetap saja masih banyak kasus merugikan konsumen terlihat.

Bagaikan muara sungai. Di sini semua menjadi jelas. Bahwa pemerintah tidak boleh disalahkan seratus persen di kasus-kasus viral menyangkut masalah konsumen. Dan semakin jelas bahwa masyarakat kita belum bisa melindungi dirinya sendiri, dari bahaya penipuan transaksi di era digital.

Masyarakat juga belum tahu kalau dirinya memiliki hak dilingugi, dan kewajiban melapor jika seandainya menjadi korban. Lembaga-lembaga, yayasan, dan komunitas yagn telah dibentuk pemerintah sebagai wujud keseriusan, masih belum bekerja efektif karena kurang mengertinya masyarakat akan fungsi dan tujuan lembaga perlindungan konsumen tersebut.

Banyak konsumen memilih diam. Haknya tidak digunakan. Walhasil, konsumen rugi, pelaku usaha jujur pun rugi, pemerintah kecolongan, pelaku usaha curang semakin mekar. Sukses besar!

Data tahun 2015. INDONESIABAIK menyebutkan masih ada 35,8 % produk  lokal tersebar dipasaran, belum memiliki label SNI. Produk ekspor pun lebih parah, sebesar 46,0 %.

Menjadi tugas pemerintah dan masyarakat, dari segala lini (penulis, blogger, seniman, publik figur, dan sebagainnya) untuk mengenalkan secara terus menerus soal peran dan fungsi lembaga perlindungan konsumen.

Langkah menciptakan konsumen cerdas di era digital

Bagaikan jamur yang tumbuh subur saat musim hujan tiba. Begitulah teknologi digital hari ini. konsumen harus bertambah mandiri, dengan tidak lagi bergantung pada pemerintah.

Langkah pertama, ubahlah sudut pandang konsumsi di era digital, serba online ini, dengan kacamata jernih.

Era digital telah membawa buah-buahannya untuk kita nikmati. Di mana segala sesuatu bisa dilakuan dengna mudah, instan, cepat via perangkat elektronik. Contohnya belanja online.

Perlu diketahui juga, ada api ada asap.  Dampak negatif dari era digital pun juga tercipta. Benteng terakhir dalam menghadapi era digital ini, agar aman, dan menyenangkan adalah dengan melindungi diri sendiri. titik!

Langkah berikutnya adala peedukasian lewar media yang tepat, berkualitas, kreatif, dan tepat sasaran.

Di sini, baik pemerintah maupun masyarakat harus bersinergi. Salah satunya, dengan mengadakan kegiatan bersama, melibatkan segala elemen hidup masyarakat, seperti menyelenggarakan lomba menulis artikel, maupun lomba video edukasi.

Saya yakin. Jika kedua langkah barusan berjalan, tujuan menciptakan konsumen cerdas di era digital bukan hanya mimpi.

“Sudah cerdas kah saya dalam berbelanja di era digital?”

Bingung belanja karena banyaknya produk yang ditampilkan

Begitu banyak produk disekitar kita, mulai dari produk fisik terlihat, sampai produk digital tak terlihat. Dengan sistim online, menemukan beratus produk dalam satu waktu yang sama, merupakan hal mudah.

Untuk itu kita perlu bijaksana dalam menyikapi, jangan sampai, kegitan berbelanja menyenangkan, justru berubah jadi tidak menyenangkan.

Ingatlah ini: “Utamakan selalu kebijaksanaan dalam belanja di era digital.”

“Lantas, bagaimana kalau saya sudah terlanjur tertipu?”

Apabila kamu merasa dirugikan oleh produsen atau pelaku usaha, kamu bisa melakukan pengaduan pada lembaga perlindungan konsumen seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), maupun pada pos pelayanan informasi, yang ada di ujung tulisan ini, secara GRATIS!!!

Karena sudah era digital, kini pengaduan tidak melulu mendatangi kantor langsung. Melainkan sudah bisa via online.

Carannya mudah, kamu hanya perlu membuka situs lembaga tersebut, dan ikuti alurnya.

7 Langkah menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital

Teliti sebelum membeli

Sistim belanja online, pembeli tidak bisa memeriksa langsung barang secara fisik. Konsumen hanya diberikan informasi produk melalui visual digital saja. Terkadang kelemahan ini sering disalahgunakan oknum bisnis “nakal”, mereka berani: memalsukan produk, mengurangi mutu produk, hingga memalsukan harga, demi keuntungan sendiri.

Lantas apa yang harus kita lakukan untuk tidak tertipu barang palsu saat belanja online?

Hal pertama sebelum membeli online, adalah meneliti barang.

“Hlo, bagaimana caranya? kan berbeda tempat?”

Benar …

Walau tak bisa secara langsung, kamu bisa mengeceknya secara online. ketikan saja, merek produk di mesin pencaari, biasanya, barang yang benar-benar ORI, dan berkualitas, sudah banyak orang yang mengulasnya.

Produk baik, pasti memiliki identitas jelas, di mana nomor kontak bisa dihubungi konsumen.

Perhatikan, jika dalam informasi produk yang kamu dapatkan tidak tertera identitas jelas, bisa dipastikan barang tersebut tidak baik. Jangan dibeli!

Perhatikan label, MKG, dan masa kadaluarsa

Barang sebaik apapun, kalau sudah melewati batas tanggal pemakainnya, pasti menjadi barang yang tidak berkualitas. Ini sering terlupa oleh banyak konsumen.

Jadi, mulai sekarang hati-hati, perhatikan label resmi, MKG, dan juga batas kadaluarsa.

Ayo menjadi Koncer: konsumen cerdas

Pastikan produk sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI)

Setiap produk (lokal maupun internasional) sebelum beredar di pasaran, jika resmi pasti melewati pemeriksaan, dan penempel label SNI jika lolos uji.

Lain ceritannya, jika ada produk beredar tanpa label SNI, maka bisa dipastikan produk tersebut belum diuji, dan jauh dari standar.

Ini bahaya,kamu bisa bayangkan hidung tanpa adanya bulu hidung untuk menyaring udara? Ya, seperti inilah bahaya barang tidak berstandar nasional.

Maka, jangan lupakan untuk mengecek apakah barang tersebut berlabel SNI atau tidak. Saya ulangi, ya … jangan sekali-sekali melupakan label SNI, di setiap kali ingin berbelanja online.

Membeli bukan berdasar keinginan, melainkan kebutuhan

Hari ini, iklan sedang marak. Tidak di TV, radio, kini diponsel pun setiap hari nampak iklan.

Iklan hari ini, berbeda dari zaman klasik dulu. Iklan hari ini sangat menyolok, sangat menarik minat untuk membeli. Klau tidak punya rem keinginan, bisa mengakibatkan kantong tipis (uang habis).

Alangkah dewasa, jika berbelanja berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan.

Kamu boleh saja belanja berdasarkan rasa “ingin” tetapi perlu diingat juga, keinginan itu tidak ada batasnnya. Jadi, pikirkanlah sekali lagi sebelum belanja.

“Ini kebutuhan, atau sekadar keinginan?”

Mengutamakan kebutuhan jauhlah lebih utama. Seperti yang diajarkan mbah-mbah kita terdahulu, “Utamakan: sandang, pangan, papan, baru keinginan.”

Melindungi data pribadi saat transaksi

Data pribadi adalah hal vital di era digital. Kalau bocor, sampai diketahui oleh pihak lain, yang tidak bertanggung jawab, fatal akibatnya.

Banyak kasus seperti itu terjadi belakangan hari ini, seperti kasus facebook yang kecolongan data konsumen—bocor—akhir-akhir ini.

Kejadian serupa tentu saja terus mengancam kita saat menikmati, kebolehan teknologi era digital, terlebih saat melakukan transaksi online.

Satu hal perlu saya tekankan adalah: HATI-HATI!

Jangan lengah. Jangan mudah memberikan data kamu kepada pihak yang tidak kredibel: tidak jelas. Jangan sembarangan!

Untuk berbelanja, saya sarankan, pilihlah sebuah marketplace yang sudah resmi, terpercaya, dan amanah.

Masyarakat kini sedang menunggu adanya perlindungan data konsumen, yang sedang diupayakan pemerintah untuk memproteksi konsumen di era digital lebih baik lagi. Semoga lekas terwujud.

Tidak melupakan standar mutu K3L (kesehatan, keamanan, keselamatan dan lingkungan.)

K3L (kesehatan, keamanan, keselamatan, dan lingkungan) merupakan sebuah pilar pokok yang harus kamu perhatikan sebelum membeli produk via online maupun ofline.

Apa alasan K3L menjadi penting?

Kamu tahu kan bahwa … kesehatan, keamanan, keselamatan, dan lingkungan merupakan sesuatu hadiah dari Sang Pencipta yang perlu dijaga dalam hidup ini?

Kamu tahu juga kan, bahwa … dirimu itu beharga, keluargamu, lingkunganmu, apa saja disekelilingmu itu beharga?

Catat ini! tidak semua barang yang beredar di muka kita maupun di dunia maya itu baik. bijaksanalah dalam memilih dengan pilar K3L. Jangan sampai sesuatu menjadi rusak, dan sulit diperbaiki di masa depan. kamu rugi, orang lain rugi, alam juga bersedih.

Ayo bersama mengurangi dampak negatif dari pemakaian produk konsumtif, dengan memperhatikan pilar K3L ini. Mari menjaga satu sama lain untuk keberlansungan hidup di masa depan.

“K3L? Wajib ada, di setiap belanjaku!”

Memilih produk dalam negeri

Konsumen cerdas itu … mereka yang memilih dan mencintai produk dalam negeri.

Konsumen cerdas itu … mereka yang bangga mengenakan produk dalam negeri dengan bangga.

Konsumen cerdas itu … mereka yang sangat mencintai tanah airnya, juga kekayaan produk asli dalam negeri.

Kini …

Sudah kah kita mencintai produk sendiri?

Sudah kah kita mencintai produk-produk INDONESIA?

Negeri kita kaya, banyak produk lokal yang kini sudah merangkak naik, hingga tembus taraf ekspor. Mulai dari produksi olahan laut, darat: pertanian, perkebunan, semuanya berkualitas ekspor. Produk terapannya pun tidak kalah. Sudah banyak orang luar mengatakan, kalau produk Indonesia itu “super keren!”

Ayo para konsumen cerdas, tunjukkan dirimu jika mencintai negaramu, dengan menggunakan produk dalam negeri.

Namamu akan tercatat di langit, menjadi abadi, sebagai orang-orang yang berperan dalam memperluas lapangan pekerjaan, meningkatkan cadangan devisa yang dapat mengurangi impor, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memperluas kualitas produksi sehingga bisa bersaing di mancanegara.

Saya anak Indonesia, memilih menjadi konsumen cerdas di era digital, dan bangga menggunakan produk Indonesia![]

Ingin tidak tertipu saat belanja online di era digital dan ikut berkontribusi memajukan Indonesia? jadilah KONCER (Konsumen Cerdas).

*artikel ini dibuat untuk mendukung terciptanya konsumen cerdas Indonesia di era digital, bersama lembaga perlindungan konsumen dalam rangka perayaan HARKONAS 2018. Bersama, kita bisa!

Untuk lebih memahami makna HAKORNAS, silakan kunjungi websitenya langsung http://harkonas.id/koncer.php atau http://harkonas.id/

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:

POS PELAYANAN INFORMASI

Direktorat Pemberdayaan Konsumen

Ditjen Standarisasi dan PerlindunganKonsumen

Kementrian perdagangan

Jl. M.L Ridwan Rais No.5 Jakarta 10110

Telp                : (021) 3858187

Fax                 : (021) 3857954

Email             : kip-dpk@kemendag.go.id

Web                : http://kemendagri.go.id

 

Tags: , , ,


About the Author

adalah seorang penulis yang juga memiliki minat di internet marketing. Semua berawal dari sejarah, dan dari sana juga ia tercipta.



Back to Top ↑