Personal

Published on Februari 6th, 2018 | by Ibnu

Pengalaman Seru Mengikuti Kegiatan Bersama Komunitas Literasi Klaten

Masih bulan Februari ya?

Memang, Belum lama saya da kita meninggalkan tahun 2017 yang penuh haru. Dan hari ini tidak terasa sudah 2018 saja. Waktu terus berjalan ke depan, tak akan pernah bisa kembali ke belakang, manusia pun juga demikian, sama-sama terus berkembang.

Bukan hidup namanya kalau tak ada pembelajaran setiap saat, betul? Kehidupan diri hari ini, harus lebih baik dari diri kita kemarin. Dan untuk menciptakan kondiisi tersebut, jiwa harus tetap terus terjaga, sadar untuk senantiasa belajar.

Saya bersyukur, pada 4 Februari 2018 lalu, bisa mengikuti kegiatan bersama komunitas literasi Klaten (KLASIK) mengangkat tema, “Coaching Clinic: Menulis kreatif” yang diselenggarakan oleh komunitas gabungan yaitu Blogger Klaten dan KLASIK. Kegiatan tersebut bertempat di Bimbel NewNeutron 2, tepatnya di sebelah barat GOR Gelar Sena Klaten itu, merupakan kegiatan pertama saya bersama KLASIK.

Bertemu Agus Mulyadi

Sebenarnya niatan utama datang ke acara tersebut ya ini, ingin bertemu mas Agus Mulyadi, seorang penulis asal Magelang Jawa Tengah. Siapa yang tak kenal beliau? Karya tulisannya di buku, maupun di bloh, sudah banyak di nikmati pembaca negeri ini. ia kini bekerja sebagai redaktur dalam sebuah media informasi online, mojok. co. Mas Agus disini, diruang yang sama ini, menjadi pembicara utama. Tentu akan sangat menarik bagi saya pribadi bisa mendapatkan pengalaman, atau ilmu seputar kepenulisan darinya.

Bagi saya, mas Agus adalah sosok inspirasi cocok untuk anak muda zaman ini. saya tak bisa mendeskribsikanya sangat jelas, teramat sulit. Tapi, kalau sahabat ingin berkenalan dengan beliau, ketikan saja namanya “Agus Mulyadi” di kotak pencarian google, pasti ketemu tulisan yang membahas tentangnya. Kalau tidak ya kunjungi saja blognya disini! 

Pertemuan

Saya kaget pertama melihat sosok aslinya disini. Waktu itu tiba-tiba ia sudah duduk santai tak jauh dari tempat saya berdiam. Sempat ragu awalnya, “Ini bukan ya orangnya?”

Setelah dilihat-lihat, diamati, ditimbang-timbang, plus mengikuti obrolan pak Sulaiman (humas komunitas literasi klaten, juga seorang penulis) baru saya yakin kalau itu memang beliau. Dia ada di depan saya.

Gambaran sederhana tak pernah lepas sosoknya itulah yang membuat saya mengagumi salah satu makhluk ciptaan Allah ini. Dia sudah banyak kali diunadng leh stasiun teve nasional, yang tenntu merrupakan cita-cita setiap orang. Tapi semua itu tidak mengubahnya untuk tetap sederhana, dan tak kehilangan jawanya. Salut!

Jam tertulis pukul 10.04 WIB. Kegiatan di buka. Peserta yang sudah hadir ada sekitar dua belasan orang. Di ruang lantai dua berukuran 7 x 5 meter bercat putih yang kami tempati tersebut terlihat masih lengang. Wajar, tak seluruh anggota bisa hadir dikarenakan ada pekerjaan penting masing-masing. Semoga, kegiatan di lain waktu, kami bisa berkumpul bersama lebih ramai lagi.

Pak Sulaiman menjadi moderator di kegiatan “Coaching clinic bersama Agus Mulyadi” itu. Pertama beliau memperkenalkan diri, mungkin , masih ada beberapa dari kami yang belum mengenalnya, termasuk saya pribadi.

Pak Sulaiman sudah aktif di bidang literasi sejak lama, salah satu penulis favoritnya adalah Raditya Dika, katanya ketika ditanya alasan, “Entah, mengalir saja ketika membaca bukunya si Radit.”

Disana pak Sulaiman, juga menunjukkan tumpukkan buku terbaru dari Raditya Dika, memamerkanya pada kami, “Saya jadikan dooprize untuk kalian!” katanya semangat.

Wah, semakin menarik saja, ada buku gratis!

Mas Agus juga tak mau kalah, ia mengeluarkan buku untuk dooprize juga, diikuti wanita di sampingnya, Kalis Mardiasih. Beliau juga penulis keren, pak Sulaiman mengenalkannya pada kami tentang mbak Kalis. Ia adalah seorang penulis kolom situs berita online terkenal Indonesia.

Lagi…

Kegiatan semakin mendebarkan, saya menunggu-nunggu sesuatu dari mas Agus serta mbak Kalis selaku penulis beneran. Ilmu dari mereka nantinya, tentu akan sangat bermanfaat buat saya dan teman-teman lain. Itulah hal pertama yang saya yakini di pertemuan ini.

Pena dan kertas saya persiapakan. Kedua benda tersebut merupakan senjata wajib bagi seorang penulis dimana saja berada. Tentu sebagai usaha menangkap ilmu dari apapun dari siapapun. Beberapa sahabat literasi yang lain juga tak mau ketinggalan menyiapkan alat pengikat ilmunya masing-masing. Ada yang mencatat dengan aplikasi note di ponsel, ada juga yang merekamnya dengan recorder, ada pula yang tenang memperhatikan, terkesima, sampai lupa tidak melakukan apa-apa.

Mikrofon sudah diserahkan ke tangan mas Agus. Itu tandanya, tak lama lagi beliau akan berbicara, membawakan materinya. Ia membuka dengan salam, kami menjawab dengan salam juga.

Sedikit cerita

Pertama, pria jawa asli tersebut memperlihatkan sebuah foto pada kami. Setelah diteliti, itu adalah gambar dirinya, dengan salah satu personel grup vokal Jkt 48 (je ka te empat lapan), Nabilla. Semua orang mendadak histeris, “Waaaaa…”, ada yang, “Cie…” serta kalimat-kalimat takjub lainnya. Kalau saya ya ga takjub-takjub amat sih, soalnya tahu, foto itu palsu. Dari kepalsuan itulah mas Agus bisa menjadi terkenal di masyarakat. Dari keahliannya mengedit foto.

Beberapa dari peserta menggerutu, setelah diberitahukan bahwa foto tersebut merupakan manipulasi aplikasi disain Photoshop. Alias editan. Mereka kecewa sejenak, walau ujungnya terkekeh sendiri, “Lah, jebul editan!” yang artinya dalam bahasa Indonesia, “Eh, ternyata hasil editan!” kata mereka.

Editan foto bareng Nabilla itulah sejarahnya tercipta. Ya, hanya dari sebuah gambar kreatif itu, namanya melambung. Kalau boleh saya kasih judul, ini judulnya, “Berkat Nabilla, jadi ada cerita”

Di awal-awal, ia banyak menceritakan garis besar kehidupnya, yaitu dari momen-momen keterpurukan hingga momen ia bisa menemukan dirinya seperti hari sekarang. Kisah detailnya, mungkin saya akan tulis lain kali, biar lebih leluasa saja.

Mas Agus mengajarkan bahwa, kondisi kehidupan seburuk apapun jangan dijadikan alasan untuk tidak bahagia, tidak sukses, kondisi itulah yang akan menempa kita menjadi pribadi hebat di masa depan.

Lalu, beliau juga mengajarkan betapa pentingnya memiliki sebuah kapasitas sejati. Dengan memiliki kapasitas diri, ketika ada kesempatan emas, maka kita bisa dengan mudah masuk di dalamnya. Seperti ia yang pandai membaca peluang dari sebuah realita.

Saya mendadak banyak berkaca. Sudah baikkah saya menerima takdir pemberian-Nya? Atau, sudah punyakah aku kapasitas itu? sudah seharusnya manusia untuk saling menyadarkan, untuk kembali menemukan diri sendiri, bahwa setiap orang adalah guru.

Itulah kisah pengantar sebelum ia menyampaikan materi kepenulisan. Materinya akan saya tulisakan di artikel lain. Supaya lebih leluasa dan fokus.

Kalis Mardiasih

Saya curiga, dengan beliau ini, penasaran juga. Apa hubungan antara mereka berdua (mbak Kalis dan mas Agus). Apa sekadar sahabat kepenulisan, atau ada yang lain, he he he. Saya mengurungkan niat untuk menanyakanya. Kurang ajar sekali kalau berani. 😀

Saya sempat merasa menyesal tidak menyapanya saat bertemu di bawah tadi sebelum acara dimulai. Kalau tahu ia penulis keren sebelumnya, sudah kusapa dirinya. Pasti!

Ini pelajaran untuk kita semua, kalau menyapa jangalah banyak mikir ‘siapa ia, kenapa aku harus menyapa’ penting sapa saja. Umat Muslim juga kan diarahkan untuk saling membalas salam (menyapa).

Lanjut…

Wanita berkacamata tersebut memberikan tugas kepada kami, masih seputar dunia literatur, yaitu untuk menuliskan sebuah opini dari berita, dua tulisan terbaik akan mendapatkan hadiah buku, dan pulsa sebesar masing-masing dua puluh lima ribu. Lumayan…

Mendadak semua peserta sibuk sendiri-sendiri mengerjakannya, demikian juga dengan saya. Singkatnya, setengah jam berlalu, peserta lain sudah selesai dan mengumpulkan karyanya. Tinggal saya sendiri belum selesai. Menyedihkan. Mungkin karena terpikir hadiah, jadi sulit fokus menulis, ha ha ha, jangan ditiru ya…

Sampai pada akhir penilaian, alhamdulillah, saya dan mas donny dapat pulsa yang dijanjikan tadi. Kalau buku, semua dapat. Sebab, buku yang dijadikan dooprisze di sana, sama jumlahnya dengan peserta yang hadir. Lumayan loh, dapat buku gratis, mana ada kegiatan selain di sini yang seperti itu coba?

Tips berkarya dari mbak Kalis

Mbak Kalis mengajarkan bahwa, “Pekerjaan apapun yang sedang kamu kerjakan, tolong hadirkan jiwa, raga, dan hatimu di sana.”

Tentu berbeda. Semua orang bisa merasakannya, sebuah kehadiran dalam berkarya. Termasuk menulis juga begitu. Ia sudah sangat berpengalaman dalam bidang kepenulisan, ia penulis besar, jadi bisa sangat mudah menilai apakah sebuah tulisan itu bernyawa, hidup, atau tidak alias mati. Mas Donny terlihat kikuk, saya jelas, mendapat apresiasi dari beliau karena bisa sedikit menghadirkan hati, nyawa dalam tulisan di tugas itu.

Kesalahan saya pada hari itu ialah tidak cerewet, dan tidak banyak tanya, kesempatan bertanya terlewat begitu saja. Ilmu terlewat sudah. Padahal, ada banyak sekali pertanyaan yang ingin saya lemparkan pada mereka. Tapi mendadak semua hilang. Mungkin karena merasa takut-takut, dan masih malu-malu.

Saya menjadi orang paling tidak beruntung disana, entah yang lain merasa demikian atau tidak. Jelas, ilmu terlewat, tak ada pertanyaan, seharunya dapat jawaban terbaik dari sang ahli, ilmu yang keren, eh malah tidak mendapatkannya apa-apa. Betul apa kata orang kalau, “Keberuntungan adalah milik siapa mereka yang berani.”

Komunitas literasi klaten

Komuniitas ini dibentuk sebagai wadah orang-orang yang mencintai literasi, khususnya di klaten. Tapi tak menutup kemungkinan kalau siapa saja boleh bergabung disini, termasuk luar daerah.

Komunitas ini masih belia, terbentuknya pada bulan-bulan akhir di tahun 2017 lalu, pencetusnya ialah mas Kharisma Adzana, mahasiswa informatika, penggiat literasi, sekaligus seorang blogger asal Klaten.

Ada banyak kegiatan positif yang bisa kalian temukan di komunitas literasi Klaten ini. Beberapa diantaranya sudah berjalan seperti: lapak buku, kopdar anggota, seminar literasi, buat buku bersama, diskusi literasi di grup, dan lainya. Kegiatan lain nun kreatif, berdampak ke masyarakat sangat mungkin terjadi. Saya yang baru sekali hadir, sudah mendapat banyak manfaat, jadi kapan lagi memulainya? Lakukan sekarang juga! Yuk gabung…

Buat sahabat yang ingin mengetahui aktivitas dari kegiatan komunitas literasi klaten, bisa melihat-lihat dari dokumentasi kegiatan kami, di @literasiklaten Instagram maupun Facebook. Bagi yang ingin bergabung belajar disana, hubungilah admin dari media tersebut.

Walau baru sekali hadir ke acara KLASIK, masih anak baru, saya sudah yakin, komunitas itu suatu saat akan besar suatu saat nanti. Kenapa demikian? Karena saya sendiri merasakan impian itu benar-benar hadir di mata saya, merasakan kesungguhan telak dari anggotanya. Mereka benar-benar tulus serta militan dalam berkarya, dan terpenting tak pelit berbagi cerita.

Mungkin sampai disini dulu cerita mengenai keluarga baru saya di Komunitas Literai Klaten (KLASIK). Cerita selanjutnya bersama mereka, akan saya ukir seiring berjalanya waktu nanti.

Salam literasi!

Jangan lupa cerita ini kepada sahabat lain diluaran sana ya, dengan menekan tomol share yang sudah saya sediakan dibawah ini.

Baca Juga ==>Kisah Inspiratif Rahasia Zhang Yin Jadi Milyarder Dari Sampah Kertas


About the Author

adalah seorang penulis yang juga memiliki minat di internet marketing. Semua berawal dari sejarah, dan dari sana juga ia tercipta.



Back to Top ↑