Personal

Published on Maret 26th, 2018 | by Ibnu

Happy Life Before 40s: Keinginan Sederhana Seorang Blogger Kampung

Ingatkah saat anda masih kecil dahulu? saat itu, anda dan saya sering hidup dalam pilihan dan impian orang dewasa, orangtua kita sendiri.

“Nak … kamu besok jadi dokter ya. Oke!” ucap seorang ayah pada anaknya, dengan mata berbinar-binar penuh harap. Tak lama kemudian …

“Aku mau jadi dokter! aku mau jadi dokter!” dengan riang, anak itu berlari-larian kesana-kemari sambil teriak-teriak soal impian ayahnya.

Pertanyaannya adalah: tahu apa seorang anak kecil mengenai dokter?

Sudah hampir dua puluh tahun saya hidup di dunia. Aneka keinginan pun tercipta, tercatat rapi di sana. Dalam buku harian yang sudah saya tulis sejak duduk di bangku SMP.

Dua hari lalu, buku usang tersebut saya buka kembali, lembar demi lembar saya baca dengan teliti. Satu hal membuat saya terkekeh ketika membacanya, yaitu soal keinginan yang berganti-ganti, tetapi belum pernah satu pun pernah terjadi.

Segala keinginan pekerjaan tingkat tinggi semacam: dokter, guru, teknisi, jaksa, sampai menjadi angen rahasia, pernah saya tulis di sana. Semua itu saya peroleh dari sebuah perjalanan hidup, dari bacaan, dari orang lain, dari mana saja. Hingga di titik ini saya berhenti sejenak untuk evaluasi, dan untuk berkontemplasi,

Keadaan semacam ini tak boleh dibiarkan terus-terusan! Waktu tidak boleh mempermainkan keinginan saya lagi. Kalau begini terus, bisa berbahaya. Jika nanti saya tiba-tiba tua dan beruban lalu menyesal? Oh, jangan sampai. Hidup sekali sekali, harus berarti!

Lantas tercetuslah keinginan sederhana dari benak blogger kampung seperti saya. Keinginan yang mungkin dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang. Keinginan yang paling tak masuk akal di era kapital ini. Apa itu?

Sebelum sampai umur 40 tahun, saya harus menjadi manusia yang bijaksana.

“Hlo, hlo … sebentar … apa, ya bisa, hidup dari kebijaksanaan saja? nggak butuh makan, pakaian, dan materi begitu?”

Bukan begitu. Makan, pakaian, dan materi sangat penting. Hanya saja, saya tidak begitu mengejarnya. Sebab materi: harta, kedudukan, jabatan, kemapanan, dikenal, pujian, dkk, bagi saya merupakan efek bias dari sebuah konsistensi mengenal diri sendiri, alias mencintai pekerjaan.

Lagipula, apa artinya memiliki gemerlap materi nun indah itu, tanpa adanya sebuah kebijaksanaan? Materi tanpa kebijaksanaan bagaikan pisau untuk melukai.

Tak hanya itu, saya juga ingin menelurkan setidaknya satu mahakraya untuk Indonesia. Yaitu sebuah buku. Sejurus dengan itu, saya juga ingin lebih dekat ke masyarakat (bukan kampanye) melalui tulisan dan internet. Salah satu caranya, ya, dengan mendirikan pusat keilmuan (perpustakaan), dan internet tingkat di desa.

Ada satu hal bikin saya khawatir. Semisal saat sedang mewujudkannya keinginan tadi, sesuatu hal buruk dari  depan menimpa saya, apa yang akan saya lakukan untuk melindungi diri pribadi, sekaligus keluarga tercinta? Investasi terbaik seperti apa yang akan membantu saya?

Ada kebijaksanaan kecil hadir saat itu juga. Untuk melindungi keluarga, sahabat, dan banyak orang dari kemungkinan tak terduga mendatang, saya memulai persiapan, dengan mengajak mereka untuk sama-sama mengikuti program asuransi jiwa unit link dari Commonwealth Life. Program asuransi Commonwealth ini sangatlah unik, di mana kita bisa mendapatkan fasilitas dan manfaat asuransi jiwa yang lengkap sekaligus bisa berinvestasi bernilai bisni secara fleksibel.

Bersama asuransi Commonwealth Life. Hidup tenang, hati pun senang! []

 

 

Tags: ,


About the Author

adalah seorang penulis yang juga memiliki minat di internet marketing. Semua berawal dari sejarah, dan dari sana juga ia tercipta.



Back to Top ↑